Pondok Shabran UMS Resmi Terima 40 Mahasantri Baru, Teguhkan Komitmen sebagai Pusat Kaderisasi Muhammadiyah Nasional

Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

ums.ac.id, SURAKARTA – Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menetapkan 40 mahasantri baru Program S1 Tahun Akademik 2026/2027 setelah menyelesaikan seluruh rangkaian Penerimaan Mahasantri Baru (PMB) yang meliputi seleksi administrasi, tes hafalan al-Qur’an, tes tertulis (Bahasa Arab, Dirasah Islamiyah & Kemuhammadiyahan), serta tahapan terakhir tes wawancara. Seleksi tersebut dilaksanakan untuk menjaring kader-kader terbaik Muhammadiyah dari berbagai wilayah Indonesia yang akan dipersiapkan sebagai calon ulama dan pemimpin Persyarikatan di masa depan.

Pada PMB tahun ini, Pondok Shabran UMS menerima antusiasme yang tinggi dari calon peserta. Tercatat sebanyak 83 orang mendaftarkan diri sebagai calon mahasantri. Setelah melalui proses verifikasi administrasi, sebanyak 72 peserta dinyatakan lolos dan berhak mengikuti tahapan seleksi berikutnya. Dari keseluruhan peserta yang mengikuti proses seleksi, sebanyak 40 orang akhirnya ditetapkan sebagai mahasantri baru Pondok Shabran UMS Tahun Akademik 2026/2027. Dengan komposisi yang seimbang, yakni masing-masing 20 laki-laki dan 20 perempuan.

Dari sisi kaderisasi, mayoritas peserta memiliki latar belakang yang kuat dalam organisasi otonom Muhammadiyah. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi organisasi yang paling banyak melahirkan calon mahasantri, disusul Hizbul Wathan, Tapak Suci, Nasyiatul Aisyiyah, dan Pemuda Muhammadiyah. Selain itu, sebagian besar peserta juga berasal dari alumni sekolah Muhammadiyah serta keluarga yang terafiliasi dengan Persyarikatan Muhammadiyah.

Mahasantri yang diterima berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dengan persebaran terbanyak berasal dari Jawa Timur sebanyak 9 orang, Jawa Tengah 8 orang, Lampung 5 orang, Jawa Barat 4 orang, dan Sulawesi Barat 3 orang. Selain itu, masing-masing 2 mahasantri berasal dari Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan masing-masing diwakili oleh 1 mahasantri. Persebaran ini menunjukkan kuatnya daya jangkau kaderisasi Pondok Shabran UMS di berbagai wilayah Indonesia.

Selain memperhatikan aspek kaderisasi, seleksi juga menekankan kualitas akademik dan keagamaan peserta. Berdasarkan hasil seleksi, sebanyak 21 mahasantri memiliki hafalan al-Qur’an 1–10 juz, 10 mahasantri memiliki hafalan 11–20 juz, 5 mahasantri memiliki hafalan 21–29 juz, dan 4 mahasantri telah menyelesaikan hafalan 30 juz. Hasil tes Bahasa Arab dan wawasan Al-Islam Kemuhammadiyahan juga menunjukkan mayoritas peserta berada pada kategori baik hingga sangat baik.

Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan,M.Ag., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang berhasil lolos seleksi. Ia menegaskan bahwa proses seleksi yang berjenjang, objektif, dan ketat merupakan upaya untuk menjaring kader-kader terbaik Muhammadiyah dari seluruh Indonesia.

“Selamat kepada calon mahasantri yang lolos seleksi tahun ini. Pondok Shabran UMS menyiapkan kader-kader Muhammadiyah tingkat nasional yang siap berkiprah mulai dari tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah hingga pusat. Sejak awal, Pondok Shabran memang didesain sebagai sekolah kader yang menyiapkan pemimpin Muhammadiyah yang alim, cerdas, dan siap mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya, Rabu, (15/7/2026).

Sementara itu, Kepala Pondok Shabran UMS, KH. Yayuli, S.Ag., M.PI, menegaskan bahwa Pondok Shabran akan terus meningkatkan mutu pendidikan kader sebagai bagian dari komitmen mencetak generasi penerus persyarikatan yang unggul dan berkemajuan.

“Pondok Shabran terus berkomitmen menyelenggarakan pendidikan yang bermutu untuk mencetak kader Persyarikatan yang militan sesuai tiga profil lulusan Pondok Shabran, yaitu kader ulama tarjih, kader ulama tabligh, dan kader organisatoris,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa ketiga profil lulusan tersebut menjadi arah utama seluruh proses pendidikan dan perkaderan di Pondok Shabran. Dengan bekal keilmuan, kepemimpinan, dan ideologi Muhammadiyah yang kuat, para mahasantri diharapkan mampu menjadi penggerak dakwah dan kemajuan persyarikatan di berbagai daerah.

Pelaksanaan PMB Tahun Akademik 2026/2027 menegaskan komitmen Pondok Shabran UMS sebagai pusat kaderisasi Muhammadiyah tingkat nasional. Melalui seleksi yang ketat dan pembinaan yang terintegrasi, Pondok Shabran menyiapkan kader-kader terbaik untuk menjadi ulama intelektual, pemimpin umat, dan kader Persyarikatan yang berkemajuan. Ikhtiar tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan cita-cita Moh. Djazman Al-Kindi, founding father Pondok Shabran UMS, dalam menyiapkan kader Muhammadiyah yang unggul untuk persyarikatan, umat, dan bangsa. (Adi/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta