ums.ac.id, SURAKARTA – Program Studi Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah menyelenggarakan Workshop Peninjauan Visi dan Kurikulum Prodi Kesmas UMS bersama Stakeholder dan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDI) untuk Tahun Akademik 2027/2028. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Prodi Kesmas UMS mengevaluasi dan mengembangkan kurikulum agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat di bidang kesehatan masyarakat serta mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Workshop melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang selama ini memiliki keterkaitan dan kerja sama dengan Prodi Kesmas UMS. Peserta yang hadir berasal dari unsur Pemerintah Daerah Surakarta, Dinas Kesehatan dan Puskesmas se-Solo Raya, lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang kesehatan, Pimpinan Cabang dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta dan Sukoharjo, influencer, entrepreneur, pakar bidang kesehatan, serta berbagai stakeholder dan DUDI (Dunia Usaha dan Dunia Industri) mitra Prodi Kesmas UMS.
Pelaksanaan workshop menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) sebagai ruang dialog dan evaluasi bersama. Melalui metode ini, Prodi Kesmas UMS menggali berbagai permasalahan, kebutuhan, serta masukan dari stakeholder dan DUDI terkait visi dan kurikulum mayor yang selama ini diterapkan. Masukan tersebut menjadi bahan penting untuk memastikan arah pendidikan dan kompetensi lulusan tetap relevan dengan dinamika kebutuhan masyarakat, dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketua Prodi Kesmas UMS Izzatul Arifah, S.K.M., M.P.H., menyebut, dari proses diskusi yang telah dilaksanakan, sejumlah masukan strategis berhasil dihimpun. Salah satunya berkaitan dengan pelaksanaan Magang dan Praktik Belajar Lapangan (PBL).
“Sejumlah mitra mengharapkan agar durasi kegiatan tersebut dapat diperpanjang sehingga mahasiswa memiliki waktu yang lebih memadai untuk memahami sistem kerja, mengembangkan keterampilan, dan memperoleh pengalaman secara lebih matang selama berada di instansi mitra,” jelas Izzatul, Rabu (22/7/2026).
Selain durasi kegiatan praktik, stakeholder juga menyoroti pentingnya tindak lanjut nyata dari berbagai bentuk kerja sama antara perguruan tinggi dan instansi mitra. Kerja sama diharapkan tidak berhenti pada kesepakatan formal, tetapi dilanjutkan melalui program yang memiliki perencanaan, indikator, dan target yang jelas, serta memberikan manfaat yang saling menguntungkan bagi institusi pendidikan maupun mitra.
Aspek profesionalisme mahasiswa juga menjadi perhatian dalam diskusi. Mahasiswa yang mengikuti program magang diharapkan mampu menunjukkan semangat kerja, kedisiplinan, tanggung jawab, dan etos kerja yang baik, meskipun masih berstatus sebagai mahasiswa. Sikap profesional tersebut dinilai penting sebagai bagian dari proses pembentukan karakter dan kesiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.
Berbagai masukan yang diperoleh melalui FGD yang telah terselenggara pada Senin, 20 Juli 2026 itu selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan Prodi Kesmas UMS dalam menyusun dan mengembangkan kurikulum yang akan diterapkan pada Tahun Akademik 2027/2028.
“Proses ini diharapkan dapat menghasilkan kurikulum yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, perkembangan dunia kerja, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” tegas Izzatul.
Sementara itu, Hestu, seorang influencer asal Surakarta yang juga merupakan alumni Prodi Kesmas UMS, menyampaikan pentingnya penguatan kompetensi public speaking bagi mahasiswa dan lulusan kesehatan masyarakat. Menurutnya, kemampuan berkomunikasi secara efektif menjadi salah satu kompetensi penting yang perlu dimiliki tenaga kesehatan masyarakat untuk menyampaikan informasi dan edukasi kesehatan kepada masyarakat luas.
Ia juga mendorong agar lulusan Kesmas mampu memanfaatkan perkembangan media sosial sebagai ruang edukasi kesehatan. Menurutnya, informasi kesehatan di ruang digital tidak hanya menjadi ranah profesi kesehatan tertentu, tetapi juga dapat diisi oleh tenaga kesehatan masyarakat yang memiliki kompetensi dalam promosi kesehatan dan komunikasi.
Penguatan kompetensi digital dan health influencer dinilai menjadi salah satu peluang pengembangan lulusan Kesmas di tengah perubahan pola masyarakat dalam memperoleh informasi. Mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik dan teknis di bidang kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu mengomunikasikan pengetahuan kesehatan melalui berbagai media secara menarik, kredibel, dan bertanggung jawab.
Sementara Prof. Dr. Heru Subaris Kasjono, S.K.M., M.Kes, seorang dosen dan guru besar bidang Kesehatan Lingkungan dan Promosi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta (Polkesyo) menyampaikan bahwa acara seperti ini sangatlah penting karena melibatkan berbagai stakeholder yang nantinya menjadi tempat lulusan Kesehatan Masyarakat ini bekerja dan mengabdi.
Selain itu, Heru juga menyampaikan bahwa stakeholder ini akan menjadi ladang bagi Prodi dan dosen untuk melakukan tri dharma perguruan tinggi seperti pengabdian dan penelitian. Beliau juga menyampaikan bahwa pentingnya digitalisasi di perguruan tinggi karena dalam lima tahun ke depan hal ini lah yang akan sangat membantu perkembangan pembelajaran. Saran dari beliau juga bisa memasukkan unsur digitalisasi ini kedalam beberapa mata kuliah yang memang bisa.
Dokter dari RSO Soeharso dengan keahlian spesialis kegawatdaruratan dr. Kshanti Adhitya, Sp.EM, MM., menyampaikan apresiasi ke Prodi Kesmas UMS karena dengan adanya acara FGD tersebut bisa menyelaraskan visi dengan kebutuhan peningkatan ilmu pengetahuan dengan harapan lulusan Prodi Kesmas UMS memiliki daya saing global yang berstandar nasional maupun internasional selain itu mampu menjadi agen perubahan dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan masyarakat bagi bangsa Indonesia. (Maysali/Humas)




