ums.ac.id, SURAKARTA – Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli menjadi pengingat bagi keluarga dan masyarakat untuk menempatkan anak sebagai pusat perhatian sekaligus memastikan seluruh hak mereka terpenuhi. Guru Besar Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Sri Lestari, S.Psi., M.Si., Psikolog, menegaskan bahwa masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas tumbuh kembang anak sejak dini.
Menurut Sri Lestari, Hari Anak Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bagi orang tua dan masyarakat untuk mengevaluasi apakah anak-anak telah memperoleh haknya, hidup dengan bahagia, serta tumbuh di lingkungan yang aman. Ia menilai berbagai kasus kekerasan, perundungan, hingga penindasan terhadap anak menunjukkan bahwa ruang aman bagi anak masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
“Dalam Hari Anak, yang perlu ditanyakan adalah apakah hak-hak anak sudah terpenuhi dan apakah mereka hidup dengan cara yang membuat mereka bahagia. Saat ini masih banyak kasus kekerasan di keluarga maupun lingkungan pergaulan. Pertanyaannya, di mana ruang aman bagi anak?” ujarnya saat diwawancarai pada Kamis, (23/7/2026).

Dari perspektif psikologi keluarga, Sri Lestari menilai masih banyak orang tua yang belum memahami hak-hak dasar anak. Salah satunya adalah hak untuk menyampaikan pendapat serta memiliki ruang memilih sesuai tahap perkembangannya. Ia mengungkapkan masih banyak remaja yang menjalani pendidikan tinggi bukan berdasarkan pilihan pribadi, melainkan karena tekanan atau keinginan orang tua.
Selain itu, ia menyoroti tantangan besar yang dihadapi anak di era digital. Menurutnya, penggunaan gawai yang berlebihan membuat anak kehilangan kesempatan berinteraksi secara langsung, bahkan dapat mengalami kesepian meski berada di tengah teman atau keluarganya. Kondisi tersebut juga berdampak pada berkurangnya komunikasi dalam keluarga.
Sri Lestari mengingatkan bahwa pemberian gawai kepada anak usia dini demi membuat mereka tenang justru berisiko menghambat perkembangan. Anak prasekolah membutuhkan interaksi, sentuhan, dan komunikasi yang intensif agar mampu mengenali emosi, mengembangkan kemampuan berbicara, serta melatih kontrol diri. Ia menyebut peningkatan kasus speech delay pada anak menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai.
Selain itu, pengenalan emosi sejak usia dini merupakan fondasi penting untuk mencegah berbagai persoalan psikologis di masa depan, termasuk perilaku perundungan. Anak yang dibiasakan mengenali dan mengelola emosinya akan lebih mampu mengendalikan diri dibandingkan anak yang tidak mendapatkan pendampingan sejak kecil.
Terkait maraknya kasus bullying, Sri Lestari menjelaskan bahwa korban perundungan berpotensi mengalami trauma, kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, hingga hambatan dalam mengembangkan potensi diri. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan sosial dan akademik anak dalam waktu yang panjang.
Untuk membangun anak yang percaya diri dan mandiri, Sri Lestari menekankan pentingnya menghadirkan rumah sebagai ruang aman. Orang tua perlu menerima anak apa adanya, membiasakan diri mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, serta tidak menjadikan nilai akademik sebagai fokus utama dalam komunikasi sehari-hari. Menurutnya, kebiasaan berdialog akan membuat anak lebih terbuka ketika menghadapi persoalan.
Ia juga menekankan bahwa lingkungan ramah anak harus dibangun melalui kolaborasi keluarga, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat. Guru di sekolah diharapkan tidak membanding-bandingkan kemampuan anak dengan teman maupun saudara kandungnya karena pengalaman tersebut dapat membekas hingga dewasa. Sri Lestari bahkan membagikan pengalaman pribadi ketika anaknya masih membawa dampak psikologis akibat sering dibandingkan dengan kakaknya semasa sekolah dasar.
Menutup pesannya pada Hari Anak Nasional, Sri Lestari mengajak orang tua untuk memenuhi hak anak melalui langkah-langkah sederhana setiap hari, mulai dari menyediakan nutrisi yang sehat, membatasi konsumsi makanan ultra-proses, mengurangi ketergantungan pada gawai, hingga menyediakan waktu untuk berkomunikasi. Menurutnya, kepedulian keluarga, sekolah, dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam menciptakan generasi Indonesia yang sehat secara fisik maupun mental. (Yusuf/Humas)




