ums.ac.id, SURAKARTA – Inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menorehkan prestasi di tingkat internasional. Bio-Chest: Bio-Based Insulated Box with IoT Temperature, pH, and Ammonia Monitoring for Fisheries Quality Preservation berhasil meraih Gold Medal dalam ajang World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang berlangsung di Malaysia.
Tim Bio-Chest terdiri atas Yoon Eaindray dari Program Studi Teknik Mesin, Rajiv Tamim Wicaksana, Shyerly Fauziah Nur Rizki, Nila Rahayuningtyas, dan Raihan Ath-Thoriq dari Program Studi Teknik Kimia, Muhammad Akmal Indratama dari Teknik Mesin, serta Rahman Hendika dari Teknik Elektro. Yoon Eaindray dipercaya sebagai ketua tim dengan Muhammad Al Fatih Hendrawan, S.T., M.T., sebagai dosen pembimbing.
Ketua tim, Yoon Eaindray mengungkapkan Bio-Chest dikembangkan sebagai inovasi untuk menjaga kualitas dan keamanan hasil perikanan sekaligus menawarkan alternatif yang lebih berkelanjutan terhadap penggunaan kemasan konvensional, khususnya Expanded Polystyrene (EPS) atau styrofoam.

“Berbeda dengan kemasan konvensional yang umumnya berfungsi sebagai wadah sekaligus isolator pasif, Bio-Chest mengintegrasikan material isolasi berbasis hayati dengan sistem pemantauan kondisi produk berbasis Internet of Things (IoT). Material isolasi yang digunakan berupa polyurethane foam berbasis minyak jarak. Material tersebut dikembangkan untuk memberikan kemampuan isolasi termal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap material kemasan yang sulit terurai,” paparnya, Rabu, (12/8/2026).
Selain material berbasis hayati, Bio-Chest dilengkapi sensor temperatur, pH, dan ammonia (NH₃). Pada pengembangan terbaru, tim menambahkan sensor ammonia dan GPS, menyempurnakan sistem IoT, serta memperbarui formulasi bahan isolasi.
Data yang diperoleh dari sensor dapat dipantau melalui website sehingga pengguna dapat mengetahui kondisi produk sekaligus lokasi kotak. Informasi tersebut juga dapat dilihat secara langsung melalui LCD yang terpasang pada perangkat.
“Teknologi tersebut dirancang untuk mendukung berbagai tahapan rantai pasok perikanan, mulai dari penangkapan ikan, penyimpanan, transportasi hingga distribusi. Melalui pemantauan secara real-time, pengguna dapat memperoleh informasi mengenai kondisi produk dan melakukan tindakan lebih cepat apabila ditemukan kondisi yang berpotensi menurunkan kualitas ikan,” jelas mahasiswa UMS itu.
Keikutsertaan di WYIE 2026 menjadi bagian dari perjalanan pengembangan Bio-Chest yang telah berlangsung sekitar satu tahun. Perjalanan tersebut diawali melalui kompetisi di Surabaya.
Pada kompetisi pertama, Bio-Chest berhasil meraih Gold Medal sekaligus Grand Prize, penghargaan khusus yang diberikan kepada satu tim. Capaian tersebut mendorong tim untuk terus mengembangkan inovasi sebelum membawanya ke kompetisi internasional berikutnya di Thailand.
Di Thailand, Bio-Chest kembali memperoleh Gold Medal dan Canadian Excellence Award. Pengalaman dari dua kompetisi tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan produk sebelum mengikuti WYIE 2026 di Malaysia.
Pengembangan dilakukan secara bertahap dengan mempertahankan konsep utama Bio-Chest. Setiap kompetisi menjadi ruang bagi tim untuk menguji performa produk, menerima masukan, dan memperbaiki berbagai aspek yang masih memiliki keterbatasan.
Salah satu pengembangan penting dilakukan pada desain fisik dan proses pembuatan material isolasi. Pada versi sebelumnya, proses pelepasan material dari mold masih menghadapi kendala karena material mudah mengalami kerusakan ketika dikeluarkan. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim merancang dan mengembangkan kembali desain mold sehingga proses produksi dapat dilakukan lebih efektif dan menghasilkan struktur yang lebih baik.
Perbaikan desain mold dilakukan bersamaan dengan penyempurnaan formulasi material, sistem IoT, serta penambahan sensor. Dengan berbagai pengembangan tersebut, versi Bio-Chest yang dibawa ke Malaysia menjadi versi yang paling matang selama perjalanan pengembangannya.
Pada WYIE 2026, Bio-Chest dipamerkan melalui booth yang dilengkapi dua poster, prototype produk, brosur, serta kit untuk pengunjung. Tim juga mendapatkan kesempatan mempresentasikan inovasi tersebut secara langsung kepada tiga orang juri.
Presentasi berlangsung sekitar tiga hingga lima menit dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab selama dua hingga tiga menit. Para juri menanyakan berbagai aspek, mulai dari proses biodegradasi material, hasil eksperimen, fungsi sensor, integrasi sensor dengan sistem IoT hingga manfaat teknologi tersebut bagi kemasan hasil perikanan.
Juri juga menyoroti keunggulan Bio-Chest dibandingkan kemasan yang telah banyak digunakan, khususnya styrofoam. Tim menjelaskan bahwa Bio-Chest tidak sekadar menawarkan alternatif material kemasan, tetapi juga mengembangkan konsep kemasan pasif menjadi sistem yang mampu memberikan informasi kondisi produk secara real-time.
Respons positif juga datang dari pengunjung. Salah seorang pengunjung asal Arab Saudi yang bergerak di bidang usaha terkait perikanan menunjukkan ketertarikan terhadap potensi penerapan Bio-Chest. Ketertarikan tersebut kemudian dilanjutkan melalui pertukaran kontak antara pengunjung dan tim sebagai peluang komunikasi lebih lanjut.
Bagi tim, respons tersebut memberikan perspektif baru mengenai peluang penerapan Bio-Chest di luar lingkungan kompetisi. Ketertarikan dari pihak yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor perikanan menunjukkan bahwa persoalan yang ingin diselesaikan melalui inovasi tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan di lapangan.
“Ketika daftar penerima penghargaan diumumkan dan nama Bio-Chest tercantum sebagai salah satu peraih Gold Medal, kami merasa senang sekaligus terkejut. Penghargaan tersebut menjadi semakin bermakna karena diperoleh setelah melalui proses pengembangan, evaluasi, dan penyempurnaan selama kurang lebih satu tahun,” ujarnya.
Bagi tim Bio-Chest, perjalanan tersebut bukan sekadar rangkaian kompetisi untuk memperoleh penghargaan. Setiap kompetisi menjadi tahapan untuk menguji dan memperbaiki produk.
“Bio-Chest bukan produk yang kami ubah dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya. Kami tetap percaya pada konsep dasarnya dan terus mengembangkannya. Setiap tahap menjadi kesempatan untuk memperbaiki produk hingga semakin siap untuk diterapkan di dunia nyata,” ungkapnya.
Perjalanan dari Surabaya, Thailand hingga Malaysia menunjukkan konsistensi tim dalam mempertahankan gagasan utama sekaligus melakukan penyempurnaan. Bio-Chest yang pertama kali diperkenalkan melalui kompetisi nasional kini berkembang dengan sistem pemantauan yang lebih lengkap, desain fisik yang lebih matang, serta potensi penerapan yang semakin luas pada rantai pasok perikanan.
Capaian Gold Medal di WYIE 2026 pada 18-20 Mei 2026 tersebut sekaligus memperkuat kiprah inovasi mahasiswa UMS di tingkat internasional. Bagi tim Bio-Chest, penghargaan tersebut bukan menjadi akhir pengembangan, melainkan langkah menuju tahap berikutnya, yakni pengujian lebih lanjut, pengembangan produk, serta penjajakan peluang implementasi dan komersialisasi di sektor perikanan. (Fika/Humas)




