PLP UMS Dorong Mahasiswa Pahami Karakter dan Kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus

ums.ac.id, SURAKARTA – Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai praktik pendidikan di sekolah, termasuk bagaimana memberikan pendampingan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK).

Pengalaman tersebut diperoleh mahasiswa PLP UMS selama menjalankan kegiatan di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura. Melalui observasi dan keterlibatan dalam aktivitas sekolah, mahasiswa melihat bagaimana guru memberikan kesempatan kepada siswa ABK untuk mengikuti pembelajaran dan berinteraksi bersama teman-temannya.

Meskipun SMP Muhammadiyah 1 Kartasura bukan merupakan sekolah inklusi, mahasiswa menemukan adanya upaya guru dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi, kemampuan, dan karakter setiap siswa. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa UMS mengenai pentingnya fleksibilitas dalam proses pendidikan.

Salah satu mahasiswa PLP UMS, Hanif Maula Tanjung, mengungkapkan bahwa pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa pendampingan terhadap ABK tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran di kelas, tetapi juga penerimaan dari lingkungan sekolah.

“Lingkungan sekolah, terutama teman-teman kelas, sangat mendukung penuh keberadaan ABK. Mereka memberi kesempatan belajar dan berinteraksi bersama sehingga mereka merasa sangat diterima,” ujar mahasiswa Pendidikan Agama Islam UMS itu, Kamis (13/8/2026).

Selama observasi, mahasiswa menemukan siswa dengan karakteristik kebutuhan yang beragam, mulai dari hambatan pendengaran hingga hambatan intelektual. Sejumlah siswa membutuhkan pendampingan lebih dalam mengikuti pembelajaran.

Guru kemudian memberikan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Ketika siswa merasa bosan, mengantuk, atau mengalami tantrum, guru memberikan waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali mengikuti pembelajaran.

Wawancara Mahasiswa PLP UMS dengan Guru Bimbingan Konseling
Wawancara Mahasiswa PLP UMS dengan Guru Bimbingan Konseling

“Untuk diajak nulis, kalau sudah tidak mau dibiarin dulu, sambil kita kasih motivasi sampai anak itu siap untuk mulai belajar,” pesan Muhammad Fariz Zidannaja, S.Pd., salah satu guru yang mendampingi siswa ABK kepada para mahasiswa.

Mahasiswa juga mengamati penggunaan berbagai media dalam pembelajaran. Musik dan lagu terkadang digunakan untuk menarik kembali perhatian siswa sekaligus membangun motivasi belajar.

Pengalaman tersebut juga memperlihatkan kepada mahasiswa bahwa kemampuan siswa ABK tidak dapat disamaratakan. Sejumlah siswa memiliki potensi pada mata pelajaran tertentu, seperti Seni Budaya dan Bahasa Indonesia. Sementara itu, terdapat pula siswa yang memiliki kemampuan menghafal dan lebih menonjol dalam pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTA).

Bagi mahasiswa UMS, keberagaman tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa proses pendidikan perlu melihat potensi dan kebutuhan setiap anak.

Pendampingan terhadap ABK juga tidak hanya dinilai melalui capaian akademik. Mahasiswa melihat bahwa kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, mengendalikan emosi, mengikuti pembelajaran, hingga tumbuh menjadi lebih mandiri merupakan bagian penting dari perkembangan siswa.

Pengalaman PLP tersebut sekaligus memperkaya pembelajaran mahasiswa UMS di lapangan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman menerapkan pengetahuan kependidikan, tetapi juga belajar memahami karakter siswa, membangun komunikasi, serta menghadapi situasi pembelajaran yang beragam.

Guru SMP Muhammadiyah 1 Kartasura, Inka Fitria Ramadhan, S.Sos., berharap para siswa ABK dapat terus berkembang dan memiliki kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan sosial maupun pendidikan.

“Saya harap Habibie (salah satu siswa) dan teman lainnya bisa tumbuh dengan rasa percaya diri dan mendapatkan hak dan kesempatan yang setara dalam pendidikan,” tuturnya.

Melalui PLP, UMS mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada pemahaman teori di ruang perkuliahan. Pengalaman langsung di sekolah menjadi bagian dari proses pembentukan calon pendidik yang mampu memahami keberagaman peserta didik dan merespons kebutuhan mereka dengan pendekatan yang humanis.

Pengalaman mahasiswa PLP UMS di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan ruang agar setiap anak dapat belajar, berinteraksi, dan berkembang sesuai dengan potensinya. (Hanin/Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta