Dekan FAI UMS Serukan Pentingnya Adab dan Ilmu

ums.ac.id, SURAKARTA – Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Syamsul Hidayat, M.Ag., menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan adab, khususnya dalam dunia pendidikan dan dakwah.

“Orang berilmu seharusnya selalu diikuti dengan adab dan akhlak yang baik,” ujar Syamsul saat ditemui Jumat, (6/11).

Dia mengingatkan bahwa ilmu yang tidak dibarengi dengan akhlak dapat menimbulkan tindakan yang sembrono.

“Kadang-kadang orang tidak bermaksud sejauh itu, tetapi tanpa akhlak, efeknya bisa menimbulkan masalah,” tegasnya.

Dekan FAI UMS, Dr. Syamsul Hidayat

Dalam pandangannya, ilmu dalam Islam tidak hanya sekadar wacana teoritis, melainkan harus menjadi ilmu yang diamalkan. Hal ini ia kaitkan dengan pepatah Arab, Al-‘ilmu bila ‘amalin kasy-syajari bila tsamarin (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah).

“Ilmu harus diterapkan dengan adab, baik dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia,” tambahnya.

Terkait candaan atau guyonan dalam dakwah, Syamsul menyatakan bahwa guyon diperbolehkan dalam Islam selama tidak melampaui batas dan tetap menjaga norma.

“Guyon itu boleh, tapi kalau tidak terkendali dan ada ungkapan yang menyimpang, itu menjadi masalah,” jelasnya.

Dia menyoroti fenomena di mana candaan yang tidak tepat dalam acara keagamaan justru menjadi bahan perdebatan di media sosial.

“Orang hidup itu perlu memiliki orientasi yang jelas. Jika tidak, akan mudah mengalami disorientasi yang membuat ucapan dan tindakan keluar dari kendali,” tegasnya.

Dekan FAI UMS itu juga memberikan pesan penting kepada para pendakwah agar berhati-hati dalam menyampaikan pesan dakwah.

Menurutnya, seorang pendakwah harus mampu memberikan contoh yang baik, sebagaimana yang diajarkan dalam Al-Qur’an, “Siapa yang lebih baik ucapannya selain orang yang mengajak kepada Allah dan beramal saleh” (QS Fushshilat: 33).

Syamsul menekankan bahwa antara ucapan dan tindakan pendakwah harus selaras.

“Ngomongnya jangan ngalor, tapi perilakunya ngidul. Allah SWT murka kepada orang yang hanya bisa bicara tapi tidak melaksanakan apa yang dikatakan,” ujarnya merujuk pada ayat dalam QS As-Saff: 2-3.

Menanggapi peran netizen dalam menyikapi isu-isu di media sosial, Syamsul mengingatkan untuk selalu berhati-hati dalam berkomentar.

“Jika tidak hati-hati, komentar yang salah justru bisa memperburuk situasi. Kita semua harus lebih bijak dan menjaga akhlak, baik dalam dunia nyata maupun maya,” pesannya.

Melalui pandangan ini, Syamsul berharap para pendakwah dan masyarakat secara umum dapat menjadikan akhlak dan adab sebagai landasan utama dalam setiap aktivitas, baik di dunia nyata maupun dunia maya. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta