ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (FF UMS) terus memperkuat kualitas pendidikan dengan memastikan kurikulum yang diterapkan selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia profesi. Upaya tersebut menjadi langkah strategis UMS dalam menyiapkan mahasiswa Farmasi agar tidak hanya menguasai kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kemampuan adaptif untuk menghadapi perubahan di masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Peninjauan dan Implementasi Kurikulum yang menjadi bagian dari upaya berkelanjutan FF UMS dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Peninjauan kurikulum secara berkala memastikan pengalaman belajar mahasiswa tetap relevan dengan tantangan profesi kefarmasian yang terus berkembang.
“Bagi calon mahasiswa yang ingin menekuni bidang farmasi, penguatan kurikulum tersebut menjadi gambaran bahwa proses pendidikan di FF UMS tidak berhenti pada penguasaan teori. Mahasiswa diarahkan untuk menjalani proses pembelajaran yang terstruktur, aplikatif, dan berorientasi pada kompetensi yang dibutuhkan di dunia profesional,” ungkap Dekan FF UMS, Prof. apt. Erindyah Retno Wikantyasning, Ph.D., saat ditemui pada Sabtu, (22/8/2026).

Dekan juga menyampaikan bahwa peninjauan kurikulum merupakan bagian dari siklus penjaminan mutu yang dilakukan secara berkelanjutan. Evaluasi diperlukan agar proses pendidikan senantiasa mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan profesi, serta dinamika masyarakat.
“Peninjauan kurikulum bukan hanya untuk memenuhi kelengkapan dokumen akademik, tetapi merupakan bagian dari siklus peningkatan mutu secara berkelanjutan. Kurikulum perlu terus disiapkan agar mampu mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ungkap Dekan.
Workshop tersebut menghadirkan Prof. Dr.rer.nat. Triana Hertiani, S.Si., M.Si., Apt. dari Universitas Gadjah Mada sebagai narasumber. Kehadiran akademisi dari perguruan tinggi lain turut memperkaya perspektif dalam proses evaluasi dan pengembangan kurikulum di lingkungan FF UMS.
Dalam pemaparannya, Triana menekankan pentingnya penerapan Outcome-Based Education (OBE) dengan memastikan keterkaitan antara Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), aktivitas pembelajaran, dan asesmen. Dengan pendekatan tersebut, setiap mata kuliah dirancang sebagai bagian dari learning journey mahasiswa melalui tahapan introduce, reinforce, dan master.

Peserta workshop juga mengevaluasi kualitas aktivitas pembelajaran menggunakan pendekatan 21st Century Learning Design (21CLD). Pendekatan tersebut mendorong penguatan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, pemecahan masalah, pemanfaatan teknologi, hingga kemandirian belajar yang semakin dibutuhkan dalam dunia kerja.
Tidak hanya pembelajaran di kelas, workshop turut membahas penguatan sistem asesmen serta integrasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat ke dalam proses pendidikan. Langkah tersebut membuka ruang bagi mahasiswa untuk semakin dekat dengan persoalan nyata di bidang kefarmasian sekaligus mengembangkan kemampuan menerapkan ilmu dalam berbagai konteks.
Melalui penguatan tersebut, FF UMS menegaskan arah pengembangan pendidikan farmasi yang relevan, adaptif, terintegrasi, dan berorientasi masa depan. Bagi mahasiswa, proses ini diharapkan membentuk pengalaman belajar yang mampu mengasah kompetensi akademik sekaligus keterampilan yang diperlukan untuk berkontribusi di tengah perkembangan teknologi dan dinamika profesi kefarmasian.
Workshop Peninjauan dan Implementasi Kurikulum FF UMS telah dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Fakultas Farmasi UMS. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen FF UMS untuk terus menghadirkan pendidikan farmasi yang responsif terhadap perubahan sekaligus mempersiapkan lulusan yang kompeten dan siap mengambil peran di dunia profesional. (Yusuf/Humas)




