ums.ac.id, SURAKARTA – Melakukan operasi penyelamatan di Indonesia seringkali menghadapi sejumlah kendala. Apalagi jika penyelamatan tersebut dilakukan di lingkungan terbuka. Kondisi geografis Indonesia yang diwarnai medan pegunungan, tebing, dan jurang membuat pengetahuan operasi penyelamatan vertikal sangat penting dipelajari.
Itulah yang mengilhami Hizbul Wathan (HW) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saat menggelar Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 pada 11-13 Juli 2025 lalu. Hizbul Wathan UMS kembali menunjukkan kiprahnya dalam bidang kemanusiaan dan kebencanaan.
Humas HW UMS Hilmi Arif Syauqi mengatakan Sekolah Vertical Rescue adalah pelatihan khusus teknik penyelamatan di medan vertikal, seperti tebing, gedung tinggi, dan area bencana lainnya. Acara tahun ini mengangkat tema “Meniti Ketinggian Merajut Kepedulian”.

Sekolah Vertical Rescue menjadi ajang peningkatan kapasitas teknis, sekaligus media penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan kolaborasi antargenerasi muda. Ketika terjadi kecelakaan atau bencana di daerah ketinggian, penyelamat terlatih sangat dibutuhkan untuk mengevakuasi korban.
“Tanpa pelatihan seperti Sekolah Vertical Rescue, tindakan penyelamatan bisa malah membahayakan korban maupun penyelamat,” ujar Hilmi saat dihubungi melalui WhatsApp, Jumat (18/7).
Ketua Kafilah HW UMS Rakanda Abid Ihsan Al Faruq menjelaskan Sekolah Vertical Rescue menjadi ajang latihan fisik, teknis, empati dan kepedulian. Ia menyebut Hizbul Wathan UMS berkomitmen mencetak kader yang tangguh menghadapi bencana dengan mengedepankan kelembutan hati.
“Kegiatan ini adalah langkah kecil namun nyata untuk membuktikan bahwa generasi muda Muhammadiyah siap hadir di tengah masyarakat saat dibutuhkan,” tegas Abid dalam sambutannya.
Komandan Vertical Rescue Indonesia Tedi Ixdiana mengapresiasi Sekolah Vertical Rescue angkatan 271 di UMS. Ia terkesima dengan antusiasme peserta sepanjang mengikuti pelatihan.

“Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Angkatan ke-271 di UMS ini begitu luar biasa. Seluruh peserta sangat antusias berlatih dari hari pertama hingga hari terakhir,” ungkapnya.
Ia menyadari Indonesia penuh medan terjal, berbukit, dan gedung pencakar langit. Hal tersebut menjadi tantangan sekaligus potensi bagi peran penyelamat medan vertikal. “Saya pribadi merasa sangat berbahagia dan termotivasi untuk terus mempersiapkan potensi diri dan kader lainnya,” imbuh dia.
Kegiatan Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1 dilakukan di sejumlah titik. Lokasi hari pertama berada di Stadion Manahan, Solo, dengan agenda pengenalan penyelamatan vertikal, ascending-descending, belay system, dan leading. Malamnya, kegiatan digelar di Gedung J UMS dengan materi tools and gears.
Wahana panjat tebing di timur Gedung Induk Siti Walidah, UMS, menjadi arena utama agenda hari kedua. Materi yang diajarkan meliputi knots and hitches, anchoring on hard media, dan anchoring on soft media.
Kegiatan hari ketiga bergeser ke Griya Mahasiswa, Kampus 1 UMS. Materi yang diajarkan, antara lain hauling, lowering, dan suspension. Kegiatan tersebut sekaligus menutup rangkaian Sekolah Vertical Rescue Tingkat 1.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari setiap peserta. Salah satu peserta, Nafid Daffa, mengaku pernah mengikuti pelatihan serupa. Ia mengaku senang mengikuti pelatihan operasi penyelamatan karena akan memperdalam ilmu mengenai vertical rescue.
“Kegiatan selama tiga hari ini sangat berkesan. Ada pertemanan yang solid dan pengalaman yang luar biasa. Buat teman-teman di luar sana yang tertarik, wajib coba ikut Sekolah Vertical Rescue berikutnya,” jelasnya dengan mantap.
Lain halnya dengan Nafisah Mubarokah yang mengaku baru pertama kali mengikuti Sekolah Vertical Rescue. Ia bersyukur sebab mendapat teman baru sekaligus mempraktikkan langsung simulasi evakuasi saat bencana.
“Kegiatan ini benar-benar melatih kami untuk bisa sigap turun tangan ketika bencana terjadi. Kami di sini sudah seperti saudara,” katanya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata semangat kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana dapat tumbuh melalui pelatihan yang edukatif, kolaboratif, dan inspiratif. Hizbul Wathan UMS melalui Sekolah Vertical Rescue 2025 berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk berperan aktif dalam penanggulangan bencana dan pelayanan kemanusiaan. (Gede/Humas)




