ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Abdul Lathif Maftuh, resmi mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Tengah periode 2026-2028. Penyampaian amanah itu disaksikan ratusan kader IPM se-Jawa Tengah pada Sabtu, (25/7/2026) di SMA Muhammadiyah 1 Karanganyar. Berbekal pengalaman organisasi selama berkuliah di UMS, ia berkomitmen memperkuat sistem kaderisasi melalui pemanfaatan teknologi digital agar lebih efektif, adaptif, dan berbasis data.
Dalam wawancara, Lathif sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa ketertarikannya terhadap organisasi telah tumbuh sejak sebelum memasuki dunia perkuliahan. Semasa sekolah, ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah PIMDA 055 Karanganyar. Saat menjadi mahasiswa UMS, ia melanjutkan kiprahnya dengan bergabung di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) H.M. Misbach selama dua periode, PC IMM Sukoharjo periode 2026-2027, Tapak Suci Unit 003 UMS, serta Forum Open Source Teknik Informatika.
“Organisasi bukan sekadar tempat berkegiatan, tetapi ruang belajar yang membentuk karakter kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan mengatur waktu, komunikasi, kolaborasi, hingga membangun jejaring. Pengalaman itulah yang menjadi bekal utama sehingga saya dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PW IPM Jawa Tengah,” ujarnya, Kamis, (30/7/2026).
Komitmen memperkuat kaderisasi berbasis digital menjadi salah satu fokus yang akan dikembangkan selama masa kepemimpinannya. Berangkat dari pengalamannya sebagai bagian dari Lembaga Fasilitator Pendamping PW IPM Jawa Tengah, Lathif melihat masih terdapat proses perkaderan yang dapat ditingkatkan efektivitasnya melalui pemanfaatan teknologi.
Melalui keilmuan yang diperoleh di UMS, ia kemudian mengembangkan Sistem Borang Penilaian Pelatihan yang kini digunakan dalam proses evaluasi perkaderan PW IPM Jawa Tengah melalui platform borangipmjateng.com.
Menurutnya, teknologi harus mampu menjadi solusi atas berbagai kebutuhan organisasi, bukan sekadar menghasilkan sebuah aplikasi.
“Saya berharap ke depan semakin banyak sistem digital yang dapat mendukung kaderisasi, tata kelola organisasi, hingga pengambilan kebijakan berbasis data,” katanya.
Di tengah padatnya aktivitas organisasi, Lathif menegaskan bahwa akademik tetap menjadi prioritas. Ia meyakini organisasi dan perkuliahan bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan apabila mahasiswa mampu mengelola waktu dan menentukan skala prioritas.
“Organisasi mengajarkan banyak hal yang mungkin tidak saya dapatkan di kelas, seperti kepemimpinan, komunikasi, dan problem solving. Sementara dari akademik saya memperoleh bekal keilmuan yang kemudian bisa saya terapkan dalam organisasi,” tuturnya.
Ia menilai UMS memiliki budaya akademik yang memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk berkembang melalui pembelajaran maupun aktivitas kemahasiswaan.
“Yang paling saya rasakan di UMS adalah budaya untuk terus bertumbuh. Mahasiswa diberi kebebasan untuk aktif belajar, berdiskusi, berorganisasi, bahkan dipercaya memimpin. IMM menjadi salah satu tempat yang paling membentuk cara berpikir dan cara memimpin saya,” ungkapnya.
Selain mengembangkan digitalisasi kaderisasi, Lathif juga ingin memperkuat kolaborasi antara PW IPM Jawa Tengah dengan UMS, khususnya dalam memperluas akses beasiswa bagi kader Muhammadiyah. Menurutnya, masih banyak kader yang memiliki potensi, tetapi belum memperoleh informasi maupun pendampingan yang optimal terkait program beasiswa di UMS.
“Saya berharap sosialisasi, pendampingan, hingga rekomendasi beasiswa kader dapat berjalan lebih baik sehingga semakin banyak kader Muhammadiyah yang dapat melanjutkan pendidikan di UMS,” jelasnya.
Menutup wawancara, Lathif mengajak para pelajar untuk tidak ragu melanjutkan pendidikan di UMS sekaligus aktif berorganisasi.
“Jangan ragu kuliah di UMS dan jangan takut aktif berorganisasi. Kuliah bukan hanya soal mengejar nilai atau gelar, tetapi juga membentuk karakter dan mengembangkan potensi diri. UMS memberikan banyak ruang bagi mahasiswa untuk belajar, berorganisasi, dan berkembang. Dengan memanfaatkan kesempatan itu sebaik mungkin, kita tidak hanya menjadi lulusan yang siap bekerja, tetapi juga siap memimpin dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (Adi/Humas)




