Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS Edukasi Bahaya Posisi Duduk W pada Balita

ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) turut berkontribusi menggalakkan gerakan penyadaran kepada masyarakat di bidang kesehatan. Kegiatan ini merupakan kerja sama dengan pihak Puskesmas dan kader Posyandu di Kecamatan Gatak, Sukoharjo.

Ketua kegiatan Feyza Azzahraan, S.Kes., mengaku bahwa langkah taktis pedesaan sengaja dirancang untuk menjawab berbagai tantangan kesehatan riil di tingkat akar rumput dengan memadukan pendekatan keilmuan medis modern dan partisipasi aktif warga lokal.

Salah satu intervensi penyuluhan yang dilakukan oleh mahasiswa adalah gerakan penyadaran mengenai bahaya posisi duduk W pada balita.

“Masalah ini sengaja diangkat ke permukaan karena kebiasaan duduk tersebut kerap diabaikan dan dianggap lumrah oleh para orang tua di rumah,” kata Feyza, Kamis (30/7/2026).

Pada 6 Juli 2026, para mahasiswa Fisioterapis UMS melakukan penyuluhan di Posyandu Krajan. Pada hari itu, aktivitas pos pelayanan tidak sekadar menjalankan rutinitas penimbangan berat badan atau pembagian makanan tambahan, melainkan difokuskan pada deteksi dini perkembangan motorik kasar balita melalui penyuluhan terapan mengenai bahaya posisi duduk W pada anak.

Tim komunitas di lapangan mengidentifikasi posisi duduk W sebagai postur di mana seorang anak duduk di lantai dengan kedua lutut menekuk ke bagian depan sementara kedua tumit dan tulang kering berada di samping luar pinggul, sehingga jika diamati dari sudut pandang atas, postur bagian bawah tubuh anak akan membentuk pola geometris yang menyerupai huruf W.

Menurut Feyza, fenomena ini sangat sering dijumpai pada balita yang sedang asyik bermain karena posisi tersebut secara mekanis memberikan dasar topangan yang sangat luas, membuat tubuh anak terasa stabil dan tidak mudah terjatuh tanpa perlu mengerahkan kekuatan otot punggung secara mandiri.

Di balik stabilitas semu yang dirasakan anak, tim kesehatan memberikan peringatan keras mengenai ancaman laten yang dapat merusak struktur muskuloskeletal balita dalam jangka panjang. Posisi duduk seperti ini masih dapat ditoleransi apabila hanya dilakukan sesekali dalam durasi hitungan detik, menjadikannya kebiasaan menetap atau postur utama saat bermain sangat tidak dianjurkan karena berpotensi menimbulkan dampak buruk secara sistemik.

“Dampak klinis dari kebiasaan duduk W ini mencakup gangguan keselarasan postur tubuh alami anak, penurunan kemampuan keseimbangan statis dan dinamis, pelemahan koordinasi gerak motorik kasar, serta pengurangan kekuatan fungsional pada otot-otot inti yang berfungsi menyokong rongga tubuh dan tulang belakang,” jelas Feyza.

Beban mekanis berlebih yang diterima oleh sendi pinggul dan lutut saat anak berada dalam posisi W dapat memicu rotasi internal tulang paha yang berlebihan. Jika dibiarkan tanpa koreksi selama bertahun-tahun, hal ini berisiko menimbulkan kelainan postur serius, seperti cara berjalan yang menjinjit atau bentuk kaki yang tidak proporsional saat anak beranjak dewasa.

“Guna memutus mata rantai kebiasaan buruk yang merugikan tumbuh kembang, tim komunitas di Krajan tidak hanya memberikan pemaparan teoretis satu arah, melainkan menerapkan metode demonstrasi fisik secara langsung di hadapan para orang tua,” tambah Feyza.

Ibu-ibu yang hadir dilatih secara interaktif untuk mengenali tanda-tanda kelelahan otot pada anak dan diajarkan cara mengoreksi serta mengarahkan anak-anak mereka agar segera beralih ke alternatif posisi duduk yang jauh lebih ergonomis, fisiologis, dan aman bagi pertumbuhan tulang belulang mereka.

Posisi alternatif yang disarankan meliputi posisi duduk bersila, duduk selonjor dengan kedua kaki lurus membentang ke depan, atau posisi duduk menyamping dengan kedua kaki menekuk ke satu sisi yang sama.

Sesi edukasi di Posyandu Krajan berkembang menjadi ruang diskusi kelompok yang sangat hidup. Para orang tua secara terbuka berkonsultasi mengenai kebiasaan motorik anak di rumah dan menyatakan komitmen untuk melakukan pengawasan ketat demi mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta mencegah terjadinya gangguan postur di kemudian hari. (Maysali/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta