Iduladha dan Keutamaan Dzulhijjah: Momentum Spiritual Umat Islam

Ilustrasi Iduladha dan Keutamaan Dzulhijjah. Foto: Canva
Ilustrasi Iduladha dan Keutamaan Dzulhijjah. Foto: Canva

ums.ac.id, SURAKARTA– Masih dalam suasana Hari Raya Iduladha 1446 H, umat Islam diingatkan untuk tidak sekadar melaksanakan ibadah kurban sebagai rutinitas tahunan, namun juga memahami sunnah dan adab yang menyertainya.

Kabid Pengalaman AIK dan Kaderisasi Pondok Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengungkapkan bahwa bulan Dzulhijjah merupakan salah satu waktu istimewa dalam kalender Islam. Banyak keutamaan dan amalan sunnah yang bisa dioptimalkan oleh umat, terutama menjelang dan saat pelaksanaan kurban.

“Salah satu sunnah yang sangat dianjurkan adalah puasa Arafah bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Puasa ini memiliki keutamaan besar, yakni penghapusan dosa selama dua tahun—setahun sebelumnya dan setahun yang akan datang,” ungkapnya Minggu, (8/6).

Selain itu, adab dalam berkurban juga penting diperhatikan. Umat yang berniat untuk berkurban disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan mencukur rambut sejak awal bulan Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih. Hal ini sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban yang akan dilaksanakan.

Perbedaan antara Idulfitri dan Iduladha pun turut menjadi perhatian. Jika pada Idulfitri umat dianjurkan untuk makan sebelum melaksanakan shalat, maka pada Iduladha disarankan untuk menundanya hingga selesai shalat dan menikmati daging kurban sebagai bentuk syukur.

Dalam hal teknis penyembelihan, Yayuli menjelaskan bahwa sebaiknya orang yang berkurban menyembelih sendiri hewannya. Namun, jika tidak memungkinkan, boleh meminta bantuan kepada ahli sembelih, asalkan prosesnya tetap disaksikan.

Shalat Iduladha juga memiliki keutamaan tersendiri. Sesuai sunnah Nabi, pelaksanaannya dianjurkan di lapangan terbuka selama cuaca memungkinkan. Perjalanan menuju lokasi shalat pun disunnahkan untuk melalui jalan yang berbeda saat berangkat dan pulang, serta dilakukan dengan berjalan kaki jika tidak memberatkan.

Tak kalah penting, aspek kebersihan lingkungan dalam pelaksanaan kurban perlu mendapat perhatian serius. Limbah penyembelihan seperti darah sebaiknya dipendam dalam tanah, sementara kotoran hewan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Sebagai penutup, Yayuli mengajak umat Islam untuk mengisi bulan Dzulhijjah dengan amal-amal saleh. Momentum ini hendaknya dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah dan memperbanyak amal kebaikan.

“Bulan ini termasuk salah satu bulan yang dimuliakan. Mari kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menambah pahala dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” pesannya. (Alfina/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta