ums.ac.id, SURAKARTA – Menyadari pentingnya memahami kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an untuk meningkatkan kadar spiritualitas hamba. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) hadir dengan menggelar Kajian Tafsir, mengundang pakar dalam bidang tafsir Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., untuk mengkaji Surat Al-Baqarah ayat 97-105.
Rha’in mengawali pembahasan dengan menguraikan asbabun nuzul turunnya ayat 97 melalui perspektif Ibn Jarir Ath-Thobari. Menurut Ibn Jarir Ath-Thobari ayat ini turun untuk membantah sikap sebagian kaum yahudi yang menyatakan permusuhan terhadap malaikat jibril. Mereka mengklaim Jibril membawa wahyu yang berisi peperangan dan hukuman.
“Bani israil membenci Malaikat Jibril, karena Jibril memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad, bukan orang dari sukunya. Hal ini juga diadopsi oleh sebagian orang syiah bahwa jibril seharusnya memberikan wahyu kepada Ali bin Abi Thalib bukan ke Nabi Muhammad”, paparnya Minggu, (11/1).

Ayat ini juga menjelaskan peranan Al-Qur’an untuk legitimasi historis kitab-kitab sebelumnya, Al-Qur’an menolak sifat-sifat bani israil yang telah mempermainkan kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an turun sebagai kabar gembira (jaminan masuk surga) bagi kaum muslim karena Al-Qur’an sebagai petunjuk mereka. Rha’in sedikit menyinggung bahwa Muhammadiyah memiliki istilah hasil dari penafsiran surat Al-Baqarah ayat 97 .
“Tak layak jika umat mukmin hidup tanpa kebahagiaan, maka muhammadiyah mempunyai istilah bergembiralah di muhammadiyah yang merupakan manifestasi ayat tersebut”, tambahnya.
Dalam ayat 98 Allah menunjukkan sikap permusuhan terhadap orang yang memusuhi utusan-utusan allah. Rhain mengatakan ayat ini mengajarkan manusia untuk tidak serta merta menyalahkan Allah SWT, menyalahkan takdir, ataupun menyalahkan malaikat dikala mengalami kesusahan atau ujian. Ia juga menambahkan bahwa umat muslim harus teguh pendirian untuk memperjuangkan kebenaran.

“Kita harus berani membela kebenaran yang haqiqi, ditengah arus deras fitnah melanda kaum muslim saat ini”, tambahnya.
Pada ayat 99 Menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an terdapat banyak sisi kejelasan, beragam bentuk bukti yang menunjukkan kejelasan al-qur’an bersifat komprehensif. menurut Rha’in Al-qur’an merupakan kebenaran yang haqiqi, jika ada orang yang menolaknya merupakan kesalahan moral, buka kesalahan intelektual.
Lebih lanjut, ayat 100 menunjukkan sifat keburukan bani israil yang selalu melekat pada dirinya. Sifat bani israil yaitu mudah berjanji dan mudah mengingkari, sifat tersebut merupakan ciri dari orang fasik. Rhain mengatakan fenomena seperti itu sering terjadi ketika kampanye pemilihan pemimpin baru.
“Ironis sekali, sifat fasik itu sering terlihat ketika kampanye calon pemimpin baru, mereka sering mengaungkan janji-janjinya, tapi realita kepemimpinannya tidak merealisasikan janji-janji tersebut”, tegasnya.
Di Penghujung ayat 100, menunjukan akar masalah tersebut. Ketiadaan iman yang hakiki menjadi faktor utama. Karena ketiadaan iman menjadikan hamba mudah untuk meninggalkan syariat Allah.
Ayat 101 Menerangkan tentang penolakan orang-orang yahudi terhadap datangnya nabi Muhammad yang diutus sebagai penyempurna ajaran-ajaran nabi sebelumnya. Ironis sekali mereka, padahal mereka telah mengetahui sedari sebelum kedatangan Rasulullah, tapi menolak keras ajaran yang dibawa Rasul. Menurut Rha’in Ayat ini juga memperlihatkan penyebab kehancuran bani israil karena meninggalkan kitab suci yang seharusnya dijadikan sebagai rujukan dalam menjalani kehidupan.
Kemudian ayat 102 menceritakan kisah malaikat harut dan marut, dua malaikat yang membawa ilmu pengetahuan sebagai ujian (fitnah). hal ini dipertegas dengan pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa harut dan marut merupakan malaikat bukan manusia ataupun setan.
Ayat ini juga membicarakan tentang sihir. Rha’in mendefinisikan sihir yang merupakan sebuah halusinasi manusia yang dibarengi dengan bisikan setan. sihir juga banyak variasi, lantas manusia harus mewaspadai akan hal itu. Menurutnya, sihir yang paling populer di Indonesia yaitu aktivitas meminta sesuatu kepada dukun, yang dipercaya sebagai pemberi segala sesuatu.
Rhain juga memberikan alternatif ruqyah untuk membendung maraknya sihir. Secara etimologis ruqyah berarti bacaan/doa perlindungan. Ruqyah merupakan metode pengobatan yang tidak bertentangan dengan ilmu kedokteran modern, justru kedua ilmu itu kompatibel.
Memasuki ayat 103, mengumpamakan seandainya bani israil beriman dengan penuh keyakinan, maka Allah akan memberikan ganjaran pahala yang melimpah. Namun, mereka acuh akan hal itu.
Pada ayat 104 terdapat kesalahan pelafalan bani israil dalam diksi Ra’ina yang berarti bodoh sekali”, kesalahan yang disengaja oleh bani israil tanpa rasa takut.
Senada dengan itu, Allah memerintahkan orang-orang beriman kala itu untuk menghindari pelafadzan “raa’ina” ketika berbicara dengan nabi. karena orang-orang yahudi sering memplesetkan kata tersebut. Kata Rha’in ayat ini mengajarkan adab dalam berbicara yang bijak.
“Allah mengajarkan kita retorika berbicara melalui ayat tersebut, karena dakwah islam dibangun dengan akhlak dan tutur kata yang baik.”
Mengakhiri kajian, melalui ayat 105 dijelaskan bahwa orang-orang kafir, kaum musyrikin, dan Ahlul Kitab mempunyai rasa iri jika kaum mukmin diberi sebuah kenikmatan. Rasa iri itu tumbuh atas kedengkian dan penolakan batin terhadap kaum mukmin yang relatif lebih disayang oleh Allah. (Affiq/Humas)




