UMS Kolaborasi dengan SB AT Tanzil Malaysia, Perkuat Pendidikan Anak PMI lewat PKM-KI

UMS Kolaborasi dengan SB AT Tanzil Malaysia, Perkuat Pendidikan Anak PMI lewat PKM-KI
Dosen UMS, Obby Taufik Hidayat, Ph.D saat memberikan pendampingan kepada gitu SB AT Tanzik berkaitan dengan profil guru abad 21

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali memperluas kiprah internasional melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat-Kemitraan Internasional (PKM-KI). Kali ini, UMS berkolaborasi dengan Sanggar Bimbingan (SB) AT Tanzil yang berlokasi di Jalan BS 4/2, Taman Bukit Serdang, 43300 Seri Kembangan, Selangor, Malaysia, pada 8 Desember 2025.

Kegiatan PKM-KI ini diinisiasi oleh dosen Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) UMS, Obby Taufik Hidayat, Ph.D., sebagai ketua program. Program tersebut melibatkan sejumlah mahasiswa PPKn UMS untuk terjun langsung dalam pengabdian masyarakat di luar negeri.

“SB AT Tanzil merupakan lembaga swadaya masyarakat yang dibentuk secara sukarela oleh mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi serta Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Malaysia,” ungkapnya saat diwawancarai, Minggu, (11/1).

UMS Kolaborasi dengan SB AT Tanzil Malaysia, Perkuat Pendidikan Anak PMI lewat PKM-KI

Lembaga ini, lanjutnya, hadir sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan anak-anak PMI yang memiliki keterbatasan akses pendidikan formal di Malaysia. Keterbatasan tersebut disebabkan sebagian besar anak PMI belum memiliki kelengkapan dokumen kewarganegaraan.

Obby menjelaskan, kondisi SB AT Tanzil saat ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi sarana prasarana maupun sumber daya manusia. Mayoritas tenaga pengajar merupakan mahasiswa S1 dan S2 yang sedang menempuh studi di Malaysia, serta lulusan sarjana dan pesantren yang belum memiliki sertifikat pendidik profesional.

“Melalui PKM-KI ini, kami berupaya meningkatkan delapan keterampilan mengajar para pendidik di SB AT Tanzil sebagai langkah mewujudkan profil guru abad ke-21 di lembaga pendidikan informal luar negeri,” tambah Obby.

Selain penguatan kompetensi pedagogik, program ini juga diarahkan untuk mengembangkan karakter religius dan nasionalisme anak-anak bangsa Indonesia yang tinggal di luar negeri. Menurut Obby, hal tersebut penting mengingat mereka hidup di tengah tantangan dan dinamika status kewarganegaraan.

Tidak hanya memberikan dampak bagi mitra, PKM-KI 2025 juga membuka kesempatan bagi mahasiswa UMS untuk terlibat langsung dalam pengabdian masyarakat internasional. Keterlibatan ini dinilai strategis sebagai sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa keguruan.

“Mahasiswa mendapatkan pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang dipelajari di kelas terhadap permasalahan nyata di masyarakat, khususnya terkait literasi kewarganegaraan dan budaya,” tambahnya.

Program PKM-KI ini sekaligus mendukung Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, khususnya IKU 5 terkait kegiatan pengabdian dosen yang akan didiseminasikan dalam seminar internasional. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung IKU 2, di mana mahasiswa memperoleh pengalaman belajar di luar kampus dengan konversi sebesar 4 SKS.

Dari sisi riset nasional, program ini relevan dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) 2015–2045, terutama pada tujuan meningkatkan literasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Melalui lokakarya edukasi, pemanfaatan sumber daya daring, serta keterlibatan masyarakat, program ini diharapkan mampu memberdayakan individu dalam mengembangkan pedagogi informal di luar negeri.

“Program ini menjadi inisiatif penting dalam meningkatkan keterampilan mengajar sekaligus menanamkan karakter nasionalisme dan religius bagi masyarakat Indonesia di luar negeri, sehingga mampu mengurangi kerentanan terhadap kemiskinan dan kemerosotan moral,” pungkas Obby. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta