ums.ac.id, SURAKARTA – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian masif dalam beberapa tahun terakhir. Tak terkecuali di ranah akademik perguruan tinggi. Hal ini menuntut kepekaan mahasiswa untuk mampu memanfaatkan AI dengan sebaik mungkin.
Fenomena ini memantik ELS.ID, selaku perusahaan nasional penjualan komputer, dan NVIDIA, perusahaan graphic processing unit atau GPU asal Amerika Serikat, menggelar kegiatan seminar untuk memperkenalkan teknologi AI kepada mahasiswa.
Gelaran bertajuk “ELS.ID x NVIDIA Campus Edutech Fair “ ini turut menggandeng Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sebagai mitra penyelenggara.
Digelar di Ruang Seminar Pascasarjana Gedung L UMS, Rabu (10/12), acara ini menghadirkan sejumlah pembicara ternama. Antara lain CEO Pekerja AI Anjas Maradita, Consumer Business Leader NVIDIA Indonesia Adrian Lesmono, Sales Representative Lenovo Indonesia Urip Raharjo, dan Wakil Dekan I FKI UMS Endang Wahyu Pamungkas, S.Kom., M.Kom., Ph.D.

Dekan FKI UMS Dr. Endah Sudarmilah, S.T., M.Eng., dalam sambutannya, mendukung kegiatan seminar tersebut. “Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai teknologi AI terkini, inovasi digital, serta integrasi teknologi dalam dunia pendidikan,” ujar Endah dalam sambutannya.
Consumer Business Leader NVIDIA Indonesia Adrian Lesmono mendorong mahasiswa UMS untuk lebih aktif memanfaatkan AI. Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan AI sebagai alat untuk menggali data tambahan dalam tugas kuliah. “Bukan untuk mencari jawaban, tapi melengkapi data,” tekannya.

AI, kata Adrian, dapat digunakan di berbagai lini pekerjaan. Mulai dari industri kreatif, hingga rumpun sains seperti arsitektur. AI membantu mewujudkan gambaran awal suatu karya, sebelum direalisasikan sepenuhnya oleh tangan manusia.
“AI itu bukan cuma alat bantu, tapi juga solution provider untuk para artist,” imbuh Adrian.
CEO Pekerja AI Anjas Maradita mendorong pemanfaatan AI untuk meraup cuan. Caranya, kata dia, dengan memanfaatkan teknologi NVIDIA Inference Microservices atau NIM. Platform tersebut menyediakan berbagai jenis model AI, seperti large language mode, natural processing language, hingga voice assistant.
“Contoh, voice assistant UI (user interface) ditambah dengan teknologinya NVIDIA namanya text to speech. Kita kawinkan, kita generate, jadi apa? Set, jadi auditory insight pro namanya,” kata Anjas sembari mempresentasikan cara kerja NIM.
Acara tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa Teknik Informatika dan Pendidikan Teknik Informatika UMS. Mereka tampak antusias mendengarkan setiap materi yang dipaparkan oleh para pembicara.
Salah satunya adalah mahasiswa Teknik Informatika Kelas Internasional asal Sierra Leone, Said, yang mengaku termotivasi untuk semakin mendalami AI. Menurutnya, acara ini semakin memperkenalkan kepada mahasiswa betapa canggihnya perkembangan AI, sekaligus menuntut adaptasi yang lebih cepat untuk mempelajari AI.
“Acara ini sangat bagus karena menunjukkan bahwa teknologi akan menjadi lebih mudah bagi kita,” jelas Said. (Gede/Humas)




