UMS dan PPDK Gelar Workshop Inovasi Motif Batik Ramah Lingkungan bagi Pengrajin Difabel

ums.ac.id, SURAKARTA – Program pendampingan bagi pengrajin batik penyandang disabilitas yang digagas Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersama Pusat Pelatihan dan Dukungan Karier (PPDK) kembali berlanjut melalui pelaksanaan Workshop ke-3 bertajuk “Inovasi Motif Pewarnaan serta Pengenalan Produksi Ramah Lingkungan”. Kegiatan tersebut berlangsung di Batik Mahkota Laweyan, Surakarta.

Ketua kegiatan, Dyah Widi Astusti, S.T., M.T., mengungkapkan workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PPKM) kerja sama UMS dan Kemenristekdikti yang bertujuan meningkatkan produktivitas pengrajin difabel melalui penerapan alat bantu ramah disabilitas.

Materi diawali dengan paparan mengenai perkembangan batik, jenis motif, hingga eksplorasi desain kontemporer yang disampaikan oleh praktisi batik sekaligus pemilik Batik Mahkota Laweyan, Ir. Alpha Febela, M.T
Materi diawali dengan paparan mengenai perkembangan batik, jenis motif, hingga eksplorasi desain kontemporer yang disampaikan oleh praktisi batik sekaligus pemilik Batik Mahkota Laweyan, Ir. Alpha Febela, M.T

“Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari pelatihan pemasaran atau branding serta workshop pemanfaatan alat yang telah dilaksanakan sebelumnya,” ungkapnya, Kamis, (11/12).

Pada pelaksanaan kali ini, lanjutnya, UMS menggandeng Mahkota Batik Laweyan sebagai narasumber sekaligus tuan rumah. Kegiatan dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis, kreativitas, dan literasi lingkungan para pengrajin disabilitas, khususnya dalam inovasi motif, teknik pewarnaan, serta pemahaman proses produksi batik yang ramah lingkungan.

“Materi diawali dengan paparan mengenai perkembangan batik, jenis motif, hingga eksplorasi desain kontemporer yang disampaikan oleh praktisi batik sekaligus pemilik Batik Mahkota Laweyan, Ir. Alpha Febela, M.T,” tambah Dyah.

Selanjutnya, peserta mengikuti sesi praktik pembuatan motif batik kontemporer. Para pengrajin difabel dibimbing untuk menciptakan motif baru dengan memadukan garis, bentuk, dan komposisi visual secara kreatif. Pendamping yang terlibat merupakan pengrajin difabel binaan Mahkota Batik Laweyan yang telah berkarya lebih dari delapan tahun. Mereka bersama peserta PPDK saling berbagi pengalaman dan teknik dalam menghasilkan karya.

Ketua kegiatan juga menyampaikan harapannya atas keberlanjutan kolaborasi tersebut.

“Kami berharap dengan adanya workshop ini, PPDK dan Batik Mahkota Laweyan dapat saling bersinergi dan berkolaborasi untuk mengembangkan batik baik dari aspek desain, motif, maupun keberlanjutan usaha,” ujarnya.

Melalui kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (30/11)  itu, dosen UMS itu berharap untuk terus memperkuat komitmen dalam pemberdayaan masyarakat serta mendorong akses keterampilan inklusif bagi pengrajin difabel, khususnya dalam industri kreatif batik ramah lingkungan.

Antusiasme peserta terlihat saat mereka mencoba berbagai kombinasi motif dan warna. Pada sesi akhir, dilakukan diskusi serta evaluasi karya untuk memberikan umpan balik terkait desain, teknik pewarnaan, dan proses membatik yang telah dilakukan.(Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta