Kuliah Umum Keinsinyuran UMS Suarakan Transformasi Insinyur untuk Pembangunan Berkelanjutan

ums.ac.id, SURAKARTA – Profesi insinyur di Indonesia dituntut untuk bertransformasi demi mendukung pembangunan berkelanjutan dan berkeadaban. Hal ini mengemuka dalam kuliah umum keinsinyuran yang menjadi rangkaian Sumpah Profesi Insinyur Angkatan IX Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Arcadia Ballroom, Hotel Alana, Sabtu (13/12).

Sesi kuliah umum keinsinyuran tersebut menghadirkan dua pembicara pakar, yakni Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng., dan Guru Besar Program Studi Teknik Mesin UMS Prof. Ir. Sarjito , M.T., Ph.D.

Teguh memaparkan urgensi transformasi profesi insinyur di tengah krisis multidimensi. Terdapat empat krisis, kata dia, yang menjadi tantangan profesi insinyur. Antara lain krisis iklim, krisis energi, ketidakpastian geopolitik, dan disrupsi teknologi digital.

Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng. saat memberikan materi secara virtual dalam kuliah umum keinsinyuran, yang merupakan rangkaian Sumpah Profesi Insinyur UMS Angkatan IX, 13 Desember 2025.
Sekretaris Jenderal Persatuan Insinyur Indonesia Dr. Ir. Teguh Haryono, MBA., IPU., ASEAN Eng., ACPE., APEC Eng. saat memberikan materi secara virtual dalam kuliah umum keinsinyuran, yang merupakan rangkaian Sumpah Profesi Insinyur UMS Angkatan IX, 13 Desember 2025.

Ia mendorong tiga langkah transformasi yang dapat dilakukan oleh seorang insinyur. Pertama, profesi insinyur harus terus melakukan transformasi kompetensi. Insinyur tidak boleh cukup menguasai satu jenis spesialisasi.

“Maka target ke depan profesi insinyur harus mengintegrasikan teknis, literasi data, manajemen risiko, dan pemahaman sosial ekonomi. Kompetensi seorang insinyur harus bergeser ke arah multidisiplin,” ujarnya.

Kedua, seorang insinyur dituntut untuk melakukan transformasi etika. Jika sebelumnya insinyur berpegang teguh pada kontrak kerja, kini seorang insinyur harus mengemban tanggung jawab publik. Fokusnya pada kesejahteraan masyarakat dan menciptakan keberlanjutan.

Transformasi ketiga adalah transformasi peran. Teguh mendorong insinyur agar lebih aktif bergerak sebagai inovator dan pembuat kebijakan. “Harus aktif mendorong terjadinya inovasi yang diperlukan,” tegasnya.

Transformasi itu penting dalam menghadapi sejumlah tantangan profesi insinyur di Indonesia dan Asia Tenggara. Teguh berkata, jumlah insinyur di Indonesia termasuk rendah di antara negara anggota G20. Padahal, pembangunan infrastruktur di Indonesia tengah gencar dilakukan.

“Arus tenaga kerja terampil semakin terbuka antarnegara. Maka insinyur harus terus segera berbenah dan alhamdulillah beberapa bulan terakhir banyak perusahaan yang sudah mendaftarkan ke PII untuk mendapatkan sertifikasi,” kata Teguh.

Guru Besar Program Studi Teknik Mesin UMS Sarjito turut memberikan orasi ilmiah dalam kuliah umum keinsinyuran itu. Ia menegaskan pentingnya etik sebagai fondasi moral profesi insinyur.

Guru Besar Program Studi Teknik Mesin UMS Prof. Ir. Sarjito , M.T., Ph.D. mendorong lulusan Program Profesi Insinyur untuk berpegang teguh pada etik profesi dan mengedepankan tanggung jawab publik. Foto: Luqman Hakim
Guru Besar Program Studi Teknik Mesin UMS Prof. Ir. Sarjito , M.T., Ph.D. mendorong lulusan Program Profesi Insinyur untuk berpegang teguh pada etik profesi dan mengedepankan tanggung jawab publik. Foto: Luqman Hakim

Hal tersebut sangat penting lantaran dunia tengah menghadapi perkembangan teknologi yang kian masif. Antara lain pertumbuhan teknologi kecerdasan buatan, urbanisasi cepat dan kebutuhan infrastruktur yang masif, krisis iklim global dan tuntutan energi bersih, munculnya kendaraan listrik dan otonom, serta keamanan siber untuk sistem industri dan infrastruktur kritis.

“Semua ini menuntut insinyur tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara etik,” ujar Sarjito dalam orasinya.

Sarjito berpendapat, insinyur masa depan harus mengintegrasikan tiga pilar, yakni keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan kelayakan ekonomi. Dengan demikian, insinyur sejati akan mampu jujur dalam analisis dan tegas menolak manipulasi. Sebab, keselamatan publik adalah mandat yang harus terus diemban profesi insinyur.

Sebagai penutup, Sarjito memberikan pesan kepada para insinyur untuk senantiasa menjunjung integritas. Mengedepankan kepentingan publik daripada kepentingan pribadi.

“Insinyur bukan hanya profesi. Ia adalah amanah moral. Insinyur adalah penjaga keselamatan publik. Insinyur adalah agen perubahan peradaban,” tutup dia. (Gede/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta