Kupas Tafsir Surat An-Naba, Bukti Keagungan Allah dan Relevansinya dengan Ilmu Sains Modern

Ustadz Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I.
Ustadz Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I.

ums.ac.id, SURAKARTA – Surat An-Naba mengandung pesan penting yang membahas tiga inti pokok, yakni konsekuensi bagi orang kafir yang mengingkari hari kiamat, kehebatan penciptaan alam semesta, serta gambaran kengerian neraka dan kenikmatan surga. Ketiga inti tersebut disampaikan oleh Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I, M.Th.I.

“Surat ini juga dikenal dengan beberapa nama lain seperti Surat ‘Amma, At-Tasaul, dan Al-Mukhsirat,” kata Ainur dalam mengawali pembahasan, Jum’at, (16/5).

Ainur menyampaikan bahwa turunnya surat ini dilatarbelakangi oleh perdebatan dan pertanyaan kaum kafir Quraisy tentang kebenaran hari kiamat. Mereka berselisih dan mempertanyakan kebangkitan setelah kematian karena tidak mempercayai risalah Nabi Muhammad dan wahyu yang dibawanya. Dalam hal ini, Al-Qur’an menegaskan bahwa perdebatan tanpa dasar ilmu hanya akan menimbulkan kebencian.

Ia mengutip pendapat beberapa ulama tafsir, seperti Imam Mujahid yang menyebut bahwa “An-Naba’ Al-‘Adzim” (berita besar) adalah Al-Qur’an itu sendiri. Sementara menurut Qatadah, yang dimaksud adalah hari kiamat. Maka, Allah menegur orang-orang kafir dengan ungkapan “Kalla saya’lamun”, artinya mereka kelak akan mengetahui kebenaran itu dengan mata kepala mereka sendiri.

Masuk ke ayat-ayat selanjutnya, Ainur mengulas bagaimana Allah memberikan analogi ilmiah untuk menyadarkan kaum kafir. “Coba perhatikan bumi. Bukankah Aku telah menjadikannya hamparan?” Ayat ini menggunakan kata kerja “naja‘ala” yang menunjukkan proses bertahap menjadikan bumi layak dihuni selama miliaran tahun, bukan sekadar menciptakan secara instan.

Lebih lanjut, ia mengupas makna kata ‘mihada’, yang berarti tempat tidur atau tempat tinggal yang nyaman. Hal ini memperlihatkan bahwa bumi dirancang dengan sempurna untuk menunjang kehidupan manusia, termasuk dengan diciptakannya gunung sebagai pasak bumi dan penyeimbang ekosistem.

Dalam perspektif sains, dijelaskan bahwa gunung memiliki peran vital sebagai penyedia air, ventilasi bumi untuk keluarnya magma, serta tempat tinggal bagi flora dan fauna.

“Hanya Al-Qur’an satu-satunya kitab suci yang berani berbicara secara ilmiah dan mampu dibuktikan melalui ilmu pengetahuan modern,” tegasnya.

Dosen UMS itu juga menyampaikan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup secara berpasang-pasangan, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Ia menekankan bahwa keberpasangan ini juga menjadi argumen teologis sekaligus kritik terhadap penyimpangan seksual seperti LGBT.

“Kita wajib menghormati manusia, tetapi bukan berarti membenarkan penyimpangan,” ujarnya.

Selanjutnya, Ia menjelaskan makna tidur dan malam dalam Al-Qur’an sebagai bentuk istirahat dan perlindungan. Malam digambarkan seperti pakaian (libas), yang menyelimuti, menenangkan, dan melindungi tubuh serta saraf dari kelelahan.

“Tidur pada malam hari adalah waktu terbaik untuk metabolisme dan pembuangan racun,” ujarnya mengutip Tafsir Ibn ‘Ashur.

Siang hari, lanjut Ainur, merupakan waktu yang Allah ciptakan untuk mencari kehidupan (ma‘asha). Hal ini selaras dengan fitrah manusia dan makhluk hidup lainnya yang secara naluriah bekerja dan beraktivitas di siang hari, tanpa perlu diajarkan secara formal.

Lebih lanjut, Ia membahas penciptaan langit yang kokoh sebanyak tujuh lapis. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menciptakan struktur langit seperti bangunan yang kuat dan tinggi. Meskipun belum ada teknologi manusia yang dapat menembus lapisan langit pertama, Rasulullah SAW telah mengalaminya dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

Penjelasan terakhir berkaitan dengan matahari sebagai pelita (sirajan wahhaja). Ia menerangkan bahwa kata ‘wahhaja’ menggambarkan pijaran panas yang sangat hebat, sesuai dengan karakteristik matahari yang memiliki suhu sekitar 15 juta derajat Celcius. Hal ini membuktikan bahwa deskripsi Al-Qur’an sangat presisi secara ilmiah.

Sebagai penutup, Ainur menjelaskan tentang hujan yang berasal dari awan (mukhsirat), yaitu jenis awan yang mengandung gumpalan air. Dari hujan itulah tumbuh berbagai tanaman dan kebun yang rindang.

“Ini adalah ayat-ayat kauniyah yang menunjukkan bahwa alam adalah laboratorium keimanan,” pungkas Ainur saat menjadi Pembicara di Kajian Tafsir Al-Qur’an UMS yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting. Kajian yang telah berlangsung pada Kamis, (15/5) itu diinisiasi oleh Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) UMS. (Yusuf/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta