ums.ac.id, SURAKARTA – Kepemimpinan di perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan manajerial, tetapi juga membutuhkan integritas, tanggung jawab, amanah, kompetensi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Kepemimpinan profesional perlu dibangun dengan memadukan nilai etika moral Islam dan nilai etika moral sosial agar arah pengembangan organisasi tetap memiliki landasan moral sekaligus mampu menjawab tuntutan zaman.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua I Majelis Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. H. Achmad Jainuri, Ph.D., dalam materi “Kepemimpinan Profesional Berbasis Nilai Islam dan Kemuhammadiyahan” pada Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) yang dirangkaikan dengan Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Achmad Jainuri menjelaskan, kepemimpinan profesional pada dasarnya merupakan kemampuan untuk mengarahkan, membina, dan memotivasi orang lain dalam mencapai tujuan. Namun, kemampuan tersebut harus berjalan bersama nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, amanah, keadilan, keberpihakan kepada kebenaran, kesabaran, dan keikhlasan.

“Dalam konteks kepemimpinan, integritas menjadi salah satu fondasi penting. Integritas ditunjukkan melalui kesesuaian antara ucapan dan tindakan serta konsistensi dalam memegang prinsip kebenaran. Sementara tanggung jawab menuntut seorang pemimpin berani menanggung konsekuensi dari setiap keputusan maupun kesalahan yang dibuat,” ujarnya, Rabu (19/8/2026).
Selain itu, kepemimpinan juga harus dilandasi kesadaran bahwa setiap pemimpin memiliki tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Prinsip tersebut menempatkan kepemimpinan sebagai amanah yang tidak hanya berkaitan dengan kewenangan, tetapi juga pertanggungjawaban.
Di sisi lain, kepemimpinan profesional juga membutuhkan nilai etika moral sosial, seperti literasi, rasionalitas, keterbukaan terhadap perubahan, ketepatan waktu, orientasi jangka panjang, kemampuan adaptasi, moderasi, pluralitas, dan toleransi. Nilai-nilai tersebut diperlukan agar pemimpin mampu merespons perubahan sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi.
Kompetensi menjadi aspek lain yang tidak dapat dipisahkan. Pemimpin dituntut memiliki pengetahuan dan keahlian yang relevan sehingga keputusan yang diambil memiliki dasar keilmuan dan tidak dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai.
Dalam materi tersebut, Achmad Jainuri juga memaparkan tujuh komponen yang perlu dimiliki pemimpin Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), yaitu visi, misi, rule, skill, resources, incentive, dan action plan. Ketujuh komponen tersebut menjadi kerangka untuk memastikan organisasi memiliki arah, kapasitas, sumber daya, serta langkah nyata dalam menjalankan perubahan. (Fika/Humas)




