PSPI UMS dan KBIHU Aisyiyah Surakarta Gelar Pendampingan Mental Spiritual Calhaj 2027

ums.ac.id, SURAKARTA – Selain membutuhkan kesiapan fisik, calon jamaah haji juga membutuhkan kesiapan psikologis dan spiritual sebelum menjalani ibadah haji. Hal ini mendasari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) ‘Aisyiyah Kota Surakarta bekerja sama dengan Pusat Studi Psikologi Islam (PSPI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dalam menggelar pendampingan mental dan spiritual kepada calon jamaah haji 2027.

Ketua PSPI UMS Setiyo Purwanto, S.Psi., M.Si., Ph.D., menjelaskan kegiatan bertajuk “Kesiapan Mental Spiritual dalam Berhaji” ini menjadi upaya mempersiapkan mental dan spiritual calon jamaah haji. Sebab, perjalanan haji kerap menghadirkan berbagai situasi yang membutuhkan kesiapan mental yang kuat.

“Jamaah haji nantinya akan mengalami kelelahan, cuaca panas, kepadatan jamaah, antrean, perubahan jadwal, perbedaan kebiasaan, hingga berbagai keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan,” ujar Setiyo saat dihubungi pada Rabu (19/8/2026).

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat memunculkan kecemasan, ketakutan, kekecewaan, kemarahan, maupun konflik apabila jamaah tidak memiliki kemampuan mengelola pikiran dan emosinya. Tantangan tersebut dapat menjadi lebih besar pada jamaah lanjut usia karena perubahan kondisi fisik, kebutuhan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, kekhawatiran tersesat atau terpisah dari rombongan, serta keterbatasan dalam menjalankan aktivitas ibadah.

Setiyo menyebut salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut adalah islamic mindfulness. Artinya adalah kemampuan untuk menyadari pengalaman yang sedang terjadi tanpa langsung dikuasai oleh pikiran dan emosi, kemudian mengarahkan kembali kesadaran kepada Allah.

Dalam konteks perjalanan haji, Setiyo meneruskan, bacaan talbiyah (labbaikallahuma labbaik) dapat menjadi jangkar untuk mengembalikan kesadaran jamaah kepada tujuan utama keberadaannya di Tanah Suci. Bacaan talbiyah tidak hanya dilafalkan sebagai bacaan, tetapi dihayati sebagai kesadaran untuk memenuhi panggilan Allah.

Dengan penghayatan tersebut, jamaah diajak untuk mengingat kembali tujuan ibadah ketika menghadapi situasi yang sulit. Ketika perjalanan terasa nyaman, jamaah memenuhi panggilan Allah. Ketika panas, lelah, harus menunggu, menghadapi perubahan jadwal, maupun mengalami keadaan yang tidak sesuai harapan, jamaah tetap berada dalam kesadaran memenuhi panggilan-Nya.

“Ketika mudah, labbaik (Aku memenuhi panggilan-Mu). Ketika sulit, tetap labbaik. Sebab perjalanan haji adalah perjalanan memenuhi panggilan Allah,” jelas dia.

Setiyo optimis kegiatan ini dapat membantu jamaah merespons situasi sulit manakala melaksanakan ibadah haji. Jamaah tetap menyadari kelelahan, kecemasan atau ketidaknyamanan yang muncul, tetapi tidak harus langsung bereaksi dengan kepanikan, kemarahan, keluhan, atau perilaku yang merugikan diri sendiri maupun jamaah lain.

Melalui kegiatan yang digelar pada Minggu (16/8/2026) di Gedung Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Surakarta, KBIHU Aisyiyah Surakarta dan PSPI UMS mendorong pembekalan haji yang lebih utuh, dengan memperhatikan aspek fisik, pengetahuan manasik, psikologis, dan spiritual.

Kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan program pendampingan psikologis-spiritual bagi calon jamaah haji, termasuk pemetaan kebutuhan psikologis jamaah, edukasi pengelolaan kecemasan dan emosi, latihan kesadaran dalam beribadah, serta perhatian khusus terhadap kebutuhan jamaah lansia.

“Harapannya, calon jamaah tidak hanya siap berangkat ke Tanah Suci, tetapi juga siap menghadapi seluruh dinamika perjalanan dengan jiwa yang lebih tenang, mampu beradaptasi, dan tetap menjaga orientasi ibadah kepada Allah,” tegasnya. (Gede/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta