ums.ac.id, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Nico Dzaky Luthfan Saputra, berhasil meraih tiga penghargaan dalam ajang Festival Esai Mahasiswa Indonesia 2026 melalui karya inovatif bertajuk “TB-COUGH AI: Strategi Pra Skrining Tuberkulosis Berbasis Analisis Suara Batuk untuk Memperluas Akses Deteksi Dini Menuju Eliminasi TBC 2030.”
Dalam kompetisi tersebut, Nico berhasil membawa pulang tiga capaian sekaligus, yakni Juara Harapan Umum 2, Gold Medal pada subtema Kesehatan dan Gizi, serta penghargaan Best Presentation. Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMS mampu menghadirkan gagasan kreatif, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Nico menjelaskan bahwa Festival Esai Mahasiswa Indonesia 2026 menjadi salah satu pengalaman kompetisi yang tidak akan pernah ia lupakan. Menurutnya, ajang tersebut tidak hanya menilai kemampuan peserta dalam menyusun gagasan tertulis, tetapi juga menguji bagaimana ide dan solusi dapat disampaikan secara jelas, menarik, dan relevan bagi masyarakat.
“Di perlombaan ini, kita tidak hanya berlomba membuat gagasan atau tulisan yang bagus, tetapi juga diuji bagaimana kita bisa menyampaikan ide dan solusi yang relevan dengan masyarakat,” ungkap Nico saat ditemui pada Jumat, (15/5).

Melalui karya TB-COUGH AI, Nico mengangkat konsep aplikasi berbasis artificial intelligence yang menganalisis pola suara batuk pengguna untuk membantu proses pra skrining tuberkulosis. Sistem tersebut dirancang untuk membaca karakteristik batuk tertentu dan memberikan indikasi risiko awal kepada pengguna.
Nico menegaskan bahwa TB-COUGH AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis dokter. Inovasi ini lebih diarahkan sebagai sarana edukasi dan deteksi awal agar masyarakat lebih cepat menyadari potensi risiko TBC dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Gagasan ini berangkat dari pengalaman pribadi saya saat melihat penggunaan aplikasi edukasi kesehatan di lingkungan keluarga dan juga saat mengamati terhadap kasus penyakit yang baru terdeteksi ketika kondisi pasien sudah memburuk. Dari keresahan itu, saya mulai memikirkan perangkat sederhana yang dapat diakses banyak orang melalui smartphone,” papar Nico.
Inspirasi tersebut kemudian dipadukan dengan ketertarikannya pada penelitian TBC yang pernah ia lakukan sejak SMA, khususnya terkait pemodelan SVIR. Nico juga mempelajari berbagai referensi ilmiah, mulai dari jurnal, laporan WHO, Kementerian Kesehatan, hingga artikel penelitian tentang analisis suara batuk menggunakan AI.
Menurut Nico, salah satu tantangan terbesar dalam mengikuti kompetisi ini adalah membagi waktu antara kuliah, riset, penyusunan esai, latihan presentasi, dan kegiatan lainnya. Selain itu, ia juga harus mampu menyederhanakan konsep AI dan kesehatan agar dapat dipahami oleh dewan juri dari berbagai latar belakang.
Keberhasilan Nico meraih penghargaan Best Presentation juga tidak lepas dari cara penyampaian yang kreatif. Dalam presentasinya, mahasiswa bimbingan Alimatun Nashira, S.T., M.Eng.Sc., itu tidak hanya menjelaskan aspek teknis inovasi, tetapi juga membangun kesadaran audiens tentang urgensi TBC melalui lirik rap yang ia buat sendiri. Cara tersebut membuat presentasinya lebih hidup dan mampu menarik perhatian peserta maupun juri.
Nico menyampaikan bahwa dukungan Program Studi Teknik Kimia dan lingkungan UMS memiliki peran besar dalam pencapaiannya. Ia mengaku mendapatkan dorongan untuk aktif berkompetisi dan mengembangkan inovasi, termasuk dukungan akademik dari dosen serta lingkungan organisasi seperti KMTK Research Study dan IMM yang terus memberikan motivasi.
“Saya berharap TB-COUGH AI tidak berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih serius melalui kolaborasi dengan tenaga kesehatan dan pengembang AI,” pungkasnya.
Ia juga berpesan kepada mahasiswa UMS agar tidak takut mencoba kompetisi nasional, karena keberanian untuk memulai dapat membuka ruang belajar, relasi, dan pengalaman baru yang berdampak bagi masa depan. (Yusuf/Humas)




