ums.ac.id, SURAKARTA – Nisfu Syaban Insyaallah jatuh pada tanggal 13 Februari 2025 malam. Mayoritas umat Islam mengenal Nisfu Syaban sebagai pertengahan bulan Syaban. Tetapi Muhammadiyah sendiri tidak merumuskan terkait keutamaan dari Nisfu Syaban.
Ibadah pada Nisfu Syaban menurut pandangan Muhammadiyah tetap dapat dilakukan tetapi tanpa mengkhususkannya. Muhammadiyah ketika memberikan fatwa atau pandangan selalu berdasarkan pada Al-Quran dan As-sunnah sedangkan referensi pada kitab shahih, hadis yang mengatakan untuk puasa Nisfu Syaban adalah hadis dhoif. Selain itu ada yang mengatakan bahwa Nisfu Syaban itu bukan sesuatu yang disyariatkan.
Kabid Pengamalan AIK dan Kaderisasi Pondok Lembaga Pengembangan Pondok Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak mengakui atau mengagendakan puasa Nisfu Syaban.
Muhammadiyah berpegang pada hadis yang diriwayatkan istri Rasulullah SAW, Aisyah RA bahwa Aisyah mengatakan dalam hadis tersebut:
فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
Artinya: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw berpuasa satu bulan penuh, kecuali di bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) di satu bulan melebihi puasanya di bulan Syaban.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Jadi di momentum Syaban ini kita dianjurkan untuk memperbanyak puasa, tidak hanya pada momentum nisfu Syaban,” tutur Yayuli, Kamis (13/2).
Tidak ada ketentuan apakah berpuasanya itu nisfu Syaban, awal Syaban, atau akhir Syaban.
Yayuli juga menerangkan, di dalam doa yang disampaikan nabi berkaitan dengan tiga bulan yaitu Rajab, Syaban, dan Ramadan. Yang diabadikan di kitab shahih al musnad oleh imam Ahmad. Doanya berbunyi “Ya Allah berikanlah aku keberkahan di bulan Rajab, di bulan Syaban, dan aku sampaikanlah pada bulan Ramadan”.
Sebagian ulama berpendapat bahwa bulan Rajab itu bulan untuk menanam, kemudian bulan Syaban adalah untuk menyirami, sedangkan bulan Ramadan adalah bulan memanen dari hasil yang ditanam di bulan sebelumnya.
“Artinya kita memang dianjurkan untuk berbuat kebajikan. Mempersiapkan diri secara mental dan spiritual dalam menghadapi bulan Ramadan, karena bulan ini adalah bulan suci, bulan maghfirah, dan bulan barokah, dan bulan madrasah rukhiyah,” simpulnya.
Madrasah rukhiyah adalah bulan pendidikan untuk spiritualitas umat manusia yang beragama Islam. Bulan Syaban menjadi bulan pendidikan agar fisik tidak sampai terkejut ketika kita akan melaksanakan puasa satu bulan. Maka pada bulan Syaban ini Rasulullah menganjurkan supaya umat Islam memperbanyak puasa sunnah, seperti puasa Senin Kamis, Ayyamul Bidh, dan puasa Daud.
Yayuli menyebut amalan yang bisa dilakukan di bulan Syaban tentunya adalah amal shalih. Amalan dilakukan dengan berbuat kebajikan, bersedekah, meningkatkan ibadah baik yang wajib ataupun yang sunnah, tetapi lebih ditekankan pada puasa sunnah. Selain itu, dia juga menganjurkan untuk senantiasa berdoa setiap waktu karena itu adalah inti atau ruh dari ibadah.
Kemudian taubat sebagai bagian dari amal shalih dilakukan untuk membersihkan diri atau melakukan penyucian diri (tazkiyatun nafs). Tazkiyatun nafs merupakan proses yang penting dalam perjalanan spiritual dalam Islam, karena ia membantu seseorang mencapai kedamaian jiwa dan kedekatan dengan Allah. Konsep ini dicetuskan oleh Imam Al Ghazali.
Terdapat tiga tahapan dari konsep tersebut. Pertama adalah takhaliyat al-nafs mengosongkan diri dari perbuatan tidak baik. Umat Islam menghindari perbuatan-perbuatan yang berimplikasi pada dosa. Kemudian setelah mengosongkan diri dari perbuatan tidak baik, dilakukan tahalliyat al-nafs atau menampakkan perbuatan yang baik. Selanjutnya adalah tajalliyat al-nafs yaitu menghias atau memperindah dengan berbuat ihsan atau berbuat kebaikan. (Maysali/Humas)




