ums.ac.id, SEMARANG – Perkembangan zaman saat ini menuntut pengusaha untuk adaptif. Peka terhadap teknologi misalnya, adalah keniscayaan yang harus dipegang teguh pengusaha.
Gagasan itu dikemukakan Ahmad Failasuf, pengusaha batik tulis asal Pekalongan, Jawa Tengah, dalam Rapat Kerja Nasional ke-III Ikatan Keluarga Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (IKA UMS) yang dilaksanakan Sabtu-Minggu, 22-23 Februari 2025 di King Garden Syariah Hotel, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Kalau kita mau bisnis (tumbuh) cepat, di samping kita mengenal segmen pasar, relasi, dan kawan, sekarang itu (bisnis) tidak lepas dari dunia digital,” kata Ahmad, Minggu (23/2).
Alumni Akuntansi UMS itu menyebut orang yang menguasai bisnis adalah orang yang bisa menguasai dunia digital. Seorang pebisnis juga harus merekrut pegawai yang peka terhadap teknologi digital untuk memajukan usaha.
Teknologi digital tersebut, salah satunya mencakup taktik pemasaran melalui marketplace, yang kini menjamur di Tanah Air. Apalagi dengan tren belanja online, yang saban hari merangkak naik, menuntut pengusaha untuk melakukan digitalisasi bisnis.
Selain teknologi, gempuran barang murah dari Cina juga menarik untuk dicermati. Ahmad, yang mendirikan Batik Failasuf di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, sejak 1999 ini menganggap fenomena tersebut sebagai keniscayaan.
Perlu diakui bahwa Cina mampu menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga miring. Boleh dibilang, Cina jago dalam urusan amati, tiru, dan plek ketiplek.
Strategi jitu, kata dia, yang dapat dilakukan pebisnis adalah membuat produk yang tidak mampu dibuat oleh Cina.
“Saya membuat batik tulis yang tidak bisa dibuat di Cina. Beda dengan batik Cina yang merupakan batik printing,” imbuh Alumni UMS itu.
Membangun karakter wirausaha yang kuat, lanjutnya, harus ditanamkan sejak dini pada para usahawan pemula. Kata Ahmad, kejujuran, disiplin, amanah, dan mau belajar adalah sifat dasar yang harus dikuasai pebisnis.
Kunci sukses perjalanan bisnis versi Ahmad adalah mempunyai mimpi besar dan mau belajar dari yang terbaik.
“Tidak cukup Anda bangga dengan posisi Anda saat ini. Harus punya mimpi besar,” tegas dia.
Memperluas jaringan juga menjadi hal krusial bagi seorang pengusaha. Tidak heran jika usahawan batik tulis itu pernah mendesain baju batik untuk Presiden Abdurrahman Wahid pada tahun 2000 berkat koneksi dan jaringan yang ia bangun.
“Jaringan ini harus sesuatu yang mendukung profesi kita. Orang yang lebih pintar dari kita, itulah relasi untuk bisa sama-sama maju cepat,” tegasnya.
Ahmad menekankan pengusaha pemula untuk berani melangkah ke depan. Tidak hanya terjebak pada teori yang dipelajari.
“Namanya bisnis itu ya action, ya praktik. Kalau ada gagal di tengah jalan ya wajar. Jatuh bangun ya tidak apa-apa,” pungkas dia. (Gede/Humas)




