Refleksi Hari Arsitektur Indonesia, Peran Arsitek dalam Tata Ruang Berkelanjutan

ums.ac.id, SURAKARTA – Arsitek memiliki peran krusial dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dan fungsional bagi masyarakat. Dalam peringatan Hari Arsitektur Indonesia yang jatuh pada 18 Maret, Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T., menekankan bahwa arsitektur bukan sekadar tentang estetika, tetapi juga mencakup pemahaman mendalam tentang ruang, tata kota, dan dampak lingkungan.

Pada awal pemaparan, Dosen Arsitektur UMS itu menjelaskan bahwa peran arsitek tidak hanya dalam mendesain bangunan, tetapi juga dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai tata ruang dan pembangunan yang berkelanjutan.

Kaprodi Arsitektur UMS, Dr. Nur Rahmawati Syamsiyah, S.T., M.T

“Banyak permasalahan perkotaan yang terjadi akibat kurangnya pemahaman masyarakat akan tata ruang dan aturan pembangunan. Arsitek harus turut berperan dalam mensosialisasikan pentingnya desain yang mempertimbangkan lingkungan sejak dini,” ujar Nur Rahmawati Syamsiyah, Selasa (18/3).

Salah satu contoh nyata dari kurangnya kesadaran ini adalah permasalahan banjir yang sering melanda Indonesia. Menurutnya, hal ini tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga oleh tata ruang yang tidak sesuai.

“Banjir yang terjadi, seperti di Bekasi yang mencapai 3 hingga 5 meter, banyak disebabkan oleh banyaknya bangunan yang berdiri di atas sungai atau di daerah resapan air. Ini menunjukkan kurangnya kesadaran masyarakat akan regulasi tata ruang dan dampak lingkungan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nur Rahmawati menyoroti peran arsitek dalam membantu sosialisasi aturan tata kota kepada masyarakat.

“Regulasi pemerintah harus didukung oleh peran arsitek dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Jika sejak kecil anak-anak sudah diberi pemahaman untuk tidak membangun rumah di atas sungai, diberi pemahaman tentang konsep serapan air, hingga mengenali dampak alih fungsi hutan, maka kesadaran kolektif akan lebih terbentuk sejak dini,” ungkapnya.

Dalam aspek pendidikan, ia mengusulkan agar kurikulum sekolah memasukkan materi dasar arsitektur, seperti pemahaman tentang ruang, bangunan, rumah yang nyaman dari aspek cahaya alami dan udara, hingga tentang ruang kota.

“Seperti di negara lain, anak-anak diajari tentang aturan lalu lintas dan ruang kota sejak dini, sehingga ketika dewasa mereka tidak sembarangan dalam membangun. Di Indonesia, dulu kita punya mata pelajaran adab yang mengajarkan sopan santun dan mematuhi aturan dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin bisa dikembangkan lagi untuk memasukkan unsur pemahaman arsitektur,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kaprodi Arsitektur UMS juga menyampaikan bahwa UMS masuk nominasi 12 jurusan Arsitektur terbaik di Indonesia, dan menduduki peringkat 5. Hal tersebut dilansir dari ayosemarang.com dari pemeringkatan Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR) 2025 dan mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian yang telah diraih.

“Kami bersyukur bahwa Prodi Arsitektur UMS semakin berkembang. Adanya hibah Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), banyak mahasiswa yang mendapat kesempatan untuk lebih berkembang, baik wawasan maupun pengalamannya. Atmosfer akademik lebih hidup lagi. UMS pun sangat mendukung adanya kredit transfer ke luar negeri, seperti ke Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM). Prestasi mahasiswa pun sudah go internasional, dengan capaian medali emas di Jepang, Korea dalam ajang kompetisi International Youth Innovation 2024,” ungkapnya dengan bangga.

Di tengah tantangan dunia arsitektur saat ini, ia berharap agar peringatan Hari Arsitektur Indonesia tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga menjadi refleksi bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap peran arsitek dalam pembangunan yang berkelanjutan.

“Identitas arsitektur Indonesia harus tetap dijaga, dengan tetap memperhatikan tradisi dan kearifan lokal dalam setiap desain. Jangan sampai pembangunan modern justru menghilangkan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh leluhur kita,” tutupnya.

Hari Arsitektur Indonesia ditengarai bukan sekadar perayaan, tetapi juga ajakan untuk membangun kesadaran bersama tentang pentingnya peran arsitek dalam kehidupan sehari-hari.

”Dengan pemahaman yang lebih baik sejak dini, diharapkan generasi mendatang dapat menciptakan lingkungan yang lebih tertata, berkelanjutan, dan nyaman bagi semua,” pungkasnya. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta