UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS Perkuat Desa Konservasi dan Tangguh Bencana di Ngaglik Boyolali

ums.ac.id, SURAKARTA – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Association of Technology and Science Research (ATLAS) Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan program pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Desa Konservasi dan Tangguh Bencana melalui Edukasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Peningkatan Kesadaran Mitigasi Tanah Longsor di Desa Ngaglik” di Desa Ngaglik, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, Senin (24/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi upaya UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS dalam meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi tanah longsor. Program dilaksanakan melalui edukasi kebencanaan dan partisipasi masyarakat dengan melibatkan Pemerintah Desa Ngaglik serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali.

Dalam pelaksanaannya, tim inti pengusul kegiatan yang terdiri atas Nizzamil Fikriyatus Syifa, Adrian Cahya Ramadhan, Alya Dwihapsari, Hasyidan Nafis Hidayat, Ibal Radja Ramadhan, Intan Aulia Santoso, Liana Trihapsari, Muhammad Intifadha Al Ghaza, Muhammad Ivan Razendra Arifian, dan Syauqy Mahdi turut terlibat dalam penyelenggaraan program.

Sebanyak 30 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat Desa Ngaglik, meliputi perwakilan perangkat desa, kepala dusun, sekretaris desa, bidan desa dan tenaga kesehatan desa, anggota Linmas, pengurus Karang Taruna termasuk keterwakilan unsur pemuda dan Banser, serta perwakilan ketua RT dan ketua RW setempat.

Ketua Pelaksana Penelitian atau Pengabdian Ormawa (PPO) UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS, Nizzamil Fikriyatus Syifa, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk penerapan ilmu geografi sekaligus kontribusi mahasiswa dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada penyampaian materi mengenai tanah longsor, tetapi juga mendorong masyarakat untuk mengenali potensi risiko bencana di lingkungan sekitar. Peserta memperoleh edukasi mengenai karakteristik tanah longsor, upaya mitigasi, kesiapsiagaan, serta langkah yang dapat dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana.

“Kami ingin kegiatan ini tidak hanya menjadi sosialisasi satu kali, tetapi dapat memberikan pengetahuan yang benar-benar bisa diterapkan masyarakat. Melalui edukasi, diskusi, dan simulasi, kami berharap masyarakat Desa Ngaglik semakin memahami potensi tanah longsor serta mengetahui langkah yang tepat untuk menghadapinya,” jelasnya, Rabu, (26/8/2026).

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat menjadi salah satu kekuatan dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Perangkat desa, tenaga kesehatan, Linmas, Karang Taruna, unsur pemuda, RT, dan RW memiliki peran masing-masing dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat.

Respons positif juga disampaikan salah seorang peserta kegiatan. Ia menilai edukasi yang diberikan menjadi pengalaman baru bagi masyarakat Desa Ngaglik karena sebelumnya belum pernah mendapatkan kegiatan edukasi kebencanaan dengan materi dan simulasi seperti yang dilakukan dalam program tersebut.

“Edukasi seperti ini sebelumnya belum ada di desa kami. Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami jadi lebih mengetahui tentang tanah longsor, bagaimana cara mengantisipasinya, dan apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan supaya masyarakat semakin siap,” ungkapnya.

Program tersebut juga mengintegrasikan aspek konservasi lingkungan dengan mitigasi bencana. Masyarakat diberikan pemahaman bahwa menjaga kondisi lingkungan, termasuk vegetasi pada wilayah yang berpotensi mengalami erosi dan longsor, merupakan bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Rancangan program UKM ATLAS juga mencakup edukasi karakteristik longsor, pemetaan jalur evakuasi secara partisipatif, simulasi evakuasi bersama BPBD, serta edukasi visual melalui media mitigasi.

Melalui pendekatan tersebut, konsep desa konservasi dan tangguh bencana tidak hanya diarahkan pada kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana, tetapi juga pada kesadaran untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko. Masyarakat diharapkan dapat menjadi bagian aktif dalam menjaga lingkungan dan membangun kesiapsiagaan bersama.

Kerja sama antara UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS, Pemerintah Desa Ngaglik, BPBD Kabupaten Boyolali, dan masyarakat juga diharapkan dapat terus berlanjut. Dalam rancangan program, keberlanjutan diarahkan melalui penguatan kelompok siaga bencana serta keterlibatan pemerintah desa, BPBD, dan unsur masyarakat dalam pendampingan kegiatan.

Melalui kegiatan tersebut, UKM ATLAS Fakultas Geografi UMS berharap Desa Ngaglik dapat semakin memiliki kapasitas dalam menghadapi potensi tanah longsor sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap konservasi lingkungan. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam mewujudkan masyarakat yang lebih sadar risiko, peduli lingkungan, dan tangguh menghadapi bencana.

Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan dari anggota UKM ATLAS Fakultas Geografi lainnya yang membantu berbagai kebutuhan teknis di lapangan, mulai dari koordinasi peserta, pendampingan, pelaksanaan rangkaian kegiatan, hingga dokumentasi. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan kegiatan berjalan dengan baik.

Selain penyampaian materi, peserta diajak memahami kondisi lingkungan sekitar dan pentingnya mengetahui jalur evakuasi yang aman. Pendekatan partisipatif tersebut dilakukan agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi turut terlibat dalam membangun kesiapsiagaan di lingkungannya.

BPBD Kabupaten Boyolali turut memberikan penguatan materi dan pendampingan teknis kebencanaan. Tim BPBD menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat serta mendampingi simulasi evakuasi mandiri. Pendekatan tersebut memberikan pengalaman praktis kepada peserta dalam memahami respons ketika terjadi bencana.

Perwakilan BPBD Kabupaten Boyolali, Dwi Noor Cahya menyampaikan bahwa peningkatan kesiapsiagaan masyarakat merupakan bagian penting dalam pengurangan risiko bencana. Edukasi dan simulasi perlu dilakukan agar masyarakat memiliki pengetahuan sekaligus kemampuan untuk merespons ancaman bencana secara tepat.

“Masyarakat merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Karena itu, edukasi seperti ini perlu terus dilakukan agar masyarakat mampu mengenali potensi ancaman di lingkungannya dan mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Kami berharap pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dan diteruskan kepada masyarakat lainnya,” ujarnya.

Sementara itu, Pemerintah Desa Ngaglik, Daryanto, turut mendukung pelaksanaan kegiatan dengan membantu koordinasi dan keterlibatan berbagai unsur masyarakat. Keterlibatan pemerintah desa dinilai penting agar edukasi kebencanaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat.

Perangkat Desa Ngaglik menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan tambahan pengetahuan bagi masyarakat mengenai mitigasi bencana, khususnya tanah longsor yang perlu menjadi perhatian bersama.

“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa Fakultas Geografi UMS di Desa Ngaglik. Edukasi seperti ini memberikan pengetahuan tambahan kepada masyarakat mengenai bagaimana mengenali potensi bencana dan bagaimana mempersiapkan diri. Kami berharap kerja sama dan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut,” ungkapnya. (Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta