ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui Direktorat Riset, Kerja sama, dan Urusan Internasional (DRKUI) menggelar Seminar Pengelolaan Tata Kelola Kampus Berkelanjutan dan Sinergi Perguruan Tinggi-Pemerintah Daerah dalam Mendukung Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), Selasa (21/7/2026), di Ruang Amphitheater Abu Bakar, Fakultas Kedokteran UMS.
Seminar tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai tata kelola kampus berkelanjutan sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pencapaian SDGs melalui berbagai praktik baik yang telah diterapkan.
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa implementasi SDGs perlu dibangun secara menyeluruh, mulai dari langkah preventif, kuratif, hingga menjadi budaya dalam kehidupan kampus.

“Nah, supaya ke depan akan menjadi ekosistem penting, SDGs ini bukan hanya bagi tata kelola di penyelenggaraan perguruan tinggi, tetapi juga bagi masyarakat luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sebagai perguruan tinggi yang menjalankan catur dharma perguruan tinggi, UMS berkomitmen mendukung pencapaian SDGs melalui pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Menurutnya, UMS memiliki tiga peran utama dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, yakni memberikan arah kebijakan, menggerakkan seluruh sivitas akademika, serta menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Untuk menjadi pelopor dan percontohan, inovasi menjadi modal utama yang harus terus dikembangkan, salah satunya melalui pengembangan kawasan ekosistem kampus yang diharapkan dapat menjadi rujukan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah dalam pengelolaan SDGs.

Ia turut mengapresiasi peran UI GreenMetric yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak transformasi kampus berkelanjutan di tingkat global.
“Mari kita jadikan keberlanjutan kampus ini sebagai bagian dari budaya organisasi. Bukan sekadar indikator pemeringkatan atau perlombaan semata,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala UI GreenMetric, Dr. Abellia Anggi Wardani, menjelaskan bahwa konsep kampus berkelanjutan tidak hanya diukur dari keberadaan ruang terbuka hijau, efisiensi energi, pengelolaan sampah, maupun konservasi air.
“Tapi sebenarnya sustainability itu lebih dari sekadar efisiensi energi, pengelolaan sampah, atau konservasi air. Pengalaman dari UI GreenMetric selama lebih dari satu dekade mengelola perangkingan dan bekerja sama dengan ribuan universitas dari ratusan negara yang berbeda, menunjukkan bahwa keberhasilan dari sebuah inisiatif terkait keberlanjutan itu sebenarnya berakar dari tata kelola yang baik,” ujar Abellia.
Abellia berharap seminar tersebut dapat menjadi ruang untuk saling berbagi praktik baik, memperkuat komitmen kelembagaan, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Direktur DRKUI Nurgiyatna, Ph.D., menyampaikan agar melalui seminar ini, kesadaran SDGs di kalangan civitas academica UMS semakin menguat melalui kolaborasi dengan berbagai pihak yang selama ini aktif dalam mendukung SDGs, termasuk Pemerintah Kota Surakarta dan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.
“Sehingga nanti ke depan, kita bisa berkolaborasi untuk kemudian meningkatkan upaya-upaya di dalam rangka mendukung SDGs, keberlanjutan dan akan terbangun kesadaran bersama di kalangan sivitas akademika UMS untuk bersama-sama bersinergi,” ujarnya.
Sementara itu, Manager of Operations, Data, and Service Development UI GreenMetric, Rahmi, S.Hum., M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa tampilan kampus yang hijau belum tentu menunjukkan terjadinya perubahan sistem yang berkelanjutan.
“Jadi perubahan yang lebih mendasar terlihat ketika keberlanjutan itu masuk ke dalam kebijakan, lalu rencana strategi atau renstra, anggaran, pengadaan, pendidikan, penelitian sampai dengan pengabdian masyarakat dan tentunya evaluasi kinerja. Dan kegiatan itu dapat selesai dalam satu hari tapi transformasi untuk membuat praktik baik tetap harus berjalan meskipun pimpinan ataupun pengelolanya itu berganti,” jelasnya.
Rahmi menjelaskan terdapat empat aspek utama yang harus berjalan secara bersamaan dalam mewujudkan kampus berkelanjutan. Pertama adalah aspek lingkungan yang mencakup penggunaan energi, air, lahan, dan berbagai sumber daya. Kedua, aspek akademik melalui integrasi keberlanjutan dalam kurikulum, publikasi ilmiah, dan inovasi. Ketiga, aspek tata kelola yang meliputi kebijakan, pengambilan keputusan, anggaran, data, transparansi, dan integritas. Keempat adalah aspek dampak sosial, yakni bagaimana aktivitas perguruan tinggi memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, masyarakat, hingga lingkungan sekitar.
Menurutnya, universitas bukan hanya sekadar memiliki gedung dan lahan, melainkan juga berperan sebagai lembaga pendidikan, penghasil pengetahuan, pembentuk perilaku, penggerak inovasi, sekaligus mitra masyarakat.
Seminar tersebut juga menghadirkan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surakarta, Dian Rineta, S.T., M.Si., yang memaparkan implementasi pembangunan berkelanjutan di Kota Surakarta melalui pemanfaatan sistem data terpadu seperti SoloData.
“SoloData menjadi fondasi dalam memperkuat proses monitoring dan evaluasi capaian pembangunan berkelanjutan di Kota Surakarta,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian SDGs di Kota Surakarta melalui riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sukoharjo, Drs. Rudiyanto, M.Si., memaparkan sejumlah tantangan sekaligus program prioritas pembangunan daerah yang berkaitan dengan lingkungan hidup. (Maysali/Humas)




