UMS Tekankan Pentingnya Menjaga Kebersihan Hati dan Niat Ikhlas di Lingkungan Kerja

Niat Ikhlas di Lingkungan Kerja, Ilustrasi: Canva
Niat Ikhlas di Lingkungan Kerja, Ilustrasi: Canva

ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta kembali menggelar kegiatan Tausyiah Qiyamul Lail yang ke-198 dengan tema “Menjaga Kebersihan Hati dan Meluruskan Niat di Lingkungan Kerja yang Toxic.” Kegiatan ini dilaksanakan secara daring pada Jumat, (9/1), diikuti oleh civitas academica UMS dari berbagai unit kerja.

Tausiyah ini disampaikan oleh drg. Morita Sari, MPH., DrPH., yang menekankan pentingnya menjaga kesehatan spiritual di tengah dinamika dan tekanan lingkungan kerja.

Dalam pemaparannya, drg. Morita Sari mengajak peserta untuk melakukan refleksi diri terhadap perjalanan hidup selama tahun 2025. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara sekadar bertahan hidup dan benar-benar menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran iman.

“Did you really live 2025 or you just survive it? Karena surviving itu berbeda dengan living. Surviving adalah bangun dengan dosa yang sama, kebiasaan yang sama, dan jarak yang sama dengan Allah SWT,” ungkapnya. Sabtu, (10/1) dalam tausiyah tersebut.

Ia menjelaskan bahwa lingkungan kerja yang toxic dapat mempengaruhi kondisi mental dan emosional seseorang, ditandai dengan kurangnya empati, beban kerja yang tidak seimbang, minimnya profesionalisme, serta hubungan kerja yang tidak sehat.
Menurutnya, seorang Muslim tidak hanya dituntut untuk bertahan dalam kondisi tersebut, tetapi juga menjaga agar dirinya tidak menjadi bagian dari toksisitas itu sendiri.

“Lingkungan kerja yang toksik terkadang tidak kita sadari, bahkan bisa jadi diri kita sendiri tanpa sadar sudah menjadi toksik bagi orang lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Morita menekankan bahwa kebersihan hati merupakan kunci utama dalam menjaga ketulusan niat. Ia mengutip Surah Al-A’raf ayat 26 tentang pakaian takwa sebagai simbol penjagaan hati dan keikhlasan batin.

Selain itu, ia juga mengingatkan hadis Nabi Muhammad SAW tentang hati sebagai penentu baik dan buruknya seluruh perbuatan manusia.

“Hati adalah pusat dari segala perbuatan kita. Jika hati itu baik, maka baiklah seluruh tubuh dan amal perbuatan kita,” tuturnya.

Dalam konteks menghadapi lingkungan kerja yang penuh tekanan, peserta diajak untuk meluruskan niat bekerja semata-mata karena Allah SWT, bukan sekadar mengejar pengakuan manusia.

Ia mengutip Surah Al-Bayyinah ayat 5 dan Surah Al-An’am ayat 162 sebagai landasan bahwa seluruh aktivitas, termasuk bekerja, harus diniatkan sebagai ibadah.

“Niat yang ikhlas akan menjaga kita tetap lurus, meskipun berada di lingkungan yang penuh intrik dan kelelahan,” katanya.

Tausiyah tersebut juga menyinggung pentingnya pengendalian emosi, khususnya kemarahan, yang kerap muncul akibat tekanan kerja. Dengan merujuk pada hadis Nabi tentang larangan marah, ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan bagian dari upaya menjaga qalbu yang salim atau hati yang bersih.

“Marah itu diciptakan Allah, tetapi bagaimana kita merespons marah itulah yang akan dinilai,” ujarnya.

Menutup tausiyah, Morita mengajak seluruh sivitas akademika UMS untuk bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang sehat, saling menguatkan, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Ia menegaskan bahwa menjaga kebersihan hati dan meluruskan niat bukanlah perkara mudah, namun dengan ikhtiar, doa, dan kesabaran, hal tersebut dapat diwujudkan.

“Tujuan utama kita bukan dunia, melainkan akhirat. Mari kita perbaiki hati dan niat kita, serta menciptakan lingkungan kerja UMS yang kondusif, islami, dan penuh empati,” pungkasnya. (Adi/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta