Dibuat Kagum oleh Produknya, Tim KKN MAs 117 Lakukan Observasi ke UMKM Tatah Wayang di Dusun Tengklik

Tulisan dari Tim KKN MAs 2024 tidak mewakili pandangan dari redaksi News UMS

Karanganyar, 18 Agustus 2024 — Pada Minggu, 18 Agustus 2024, pukul 10.30 hingga 11.51 WIB, Tim KKN MAs Unit 117 melakukan observasi ke UMKM tatah wayang yang dikelola oleh Ibu Suparmi di Dusun Tengklik, Desa Kedawung, Kecamatan Jumapolo. Observasi ini dilakukan untuk mempelajari proses pembuatan wayang dan memahami tantangan yang dihadapi oleh pengrajin lokal. Kunjungan ini juga menjadi kesempatan bagi tim untuk melihat bagaimana usaha tradisional ini bertahan dan berkembang di tengah persaingan pasar yang semakin modern.

Ibu Suparmi, seorang pengrajin tatah wayang, merupakan seorang wanita yang tangguh. Setelah ditinggal suaminya yang meninggal akibat diabetes, Ibu Suparmi mengambil alih usaha keluarga dan menjadi kepala rumah tangga bagi dua anaknya. Wayang-wayang yang dihasilkan Ibu Suparmi dibuat dari kulit kerbau yang didatangkan khusus dari Yogyakarta. Usaha tatah wayang ini telah dijalani oleh keluarganya secara turun-temurun, sehingga memiliki nilai sejarah dan budaya yang mendalam.

Dalam hal pemasaran, produk wayang buatan Ibu Suparmi tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar internasional. Wayang-wayang ini dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa seni tradisional wayang masih memiliki daya tarik yang kuat, baik di kalangan kolektor maupun masyarakat umum.

Pendapatan Ibu Suparmi sangat bergantung pada pesanan yang diterimanya. Dalam waktu dua minggu, ia biasanya mendapatkan pendapatan sekitar Rp1.100.000. Namun, jika ada hajatan atau acara khusus yang membutuhkan wayang, pendapatannya bisa mencapai Rp400.000 per hari. Wayang yang diproduksi oleh Ibu Suparmi bervariasi, mulai dari wayang halus, wayang kasar, hingga wayang orang, yang merupakan kostum wayang yang biasa digunakan oleh manusia dalam pertunjukan.

Wayang-wayang yang dihasilkan oleh Ibu Suparmi juga dapat dibeli secara satuan, dengan harga yang disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan pembuatan wayang tersebut. Observasi yang dilakukan oleh Tim KKN MAs Unit 117 ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana seni tradisional dapat menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan sekaligus melestarikan budaya.

(Tim KKN MAs Unit 117, Desa Kedawung).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta