ums.ac.id, SURAKARTA – Di tengah tantangan harga properti yang kian melambung, dosen Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ir. Dyah Widi Astuti, S.T., M.Sc., menyampaikan bahwa generasi muda tetap memiliki peluang besar untuk memiliki rumah. Perencanaan matang dan sikap yang realistis terhadap kemampuan finansial menjadi catatan penting.
Menurutnya, kepemilikan rumah bagi generasi muda bukan hal mustahil. “Kalau ditanya mungkin atau tidak mungkin, sangat mungkin. Tapi tentu harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan. Artinya tetap bisa beli rumah, tapi kualitas dan tipe rumahnya perlu realistis,” jelas dosen Arsitektur UMS itu, Minggu (1/6).
Ia mengungkapkan bahwa harga rumah yang terus naik tidak bisa dilepaskan dari tingginya backlog atau kekurangan pasokan rumah di Indonesia, yang kini mencapai sekitar 12 hingga 15 juta kepala keluarga. Kondisi ini memengaruhi hukum permintaan dan penawaran yang secara otomatis mendorong kenaikan harga.

“Satu KK idealnya punya satu rumah, tapi kenyataannya ada juga yang punya lebih dari satu. Ini memperparah backlog. Akibatnya, harga rumah semakin mahal,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengenali kemampuan finansial sejak awal lulus kuliah.
“Misalnya, gaji pertama antara Rp5 juta hingga Rp10 juta, maka maksimal 30 persen dari pendapatan itu bisa disisihkan untuk investasi hunian. Jadi kalau gaji Rp10 juta, setidaknya Rp3 juta bisa dialokasikan untuk mencicil rumah lewat skema KPR,” paparnya.
Menurut Dyah, alternatif seperti KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sangat membantu generasi muda yang belum memiliki tabungan besar, karena proses pembayarannya bisa dicicil secara bertahap.
Ia juga mengungkapkan bahwa harga rumah terus mengalami kenaikan sekitar 5–7 persen per tahun. Maka dari itu, semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, maka semakin besar pula nilai hasilnya di masa depan.
Terkait jenis hunian, Dyah menegaskan bahwa meski belum ada pengembang yang secara khusus menyasar segmen generasi muda, pemerintah sudah sejak beberapa tahun terakhir mendorong program rumah bersubsidi.
“Di Solo, rumah bersubsidi bisa didapat dengan harga sekitar Rp150 juta hingga Rp200 jutaan. Program ini menyasar generasi muda atau mereka yang baru pertama kali punya rumah dengan penghasilan pas-pasan,” jelasnya.
Namun jika belum merasa siap untuk membeli rumah, Dyah menyarankan alternatif berupa tinggal di rumah sewa atau rusunawa (rumah susun sewa).
“Nggak apa-apa kalau memang mau nabung dulu. Sambil lihat-lihat, bisa tinggal dulu di rusunawa yang harganya cukup terjangkau. Pilihan untuk sewa atau beli sangat tergantung pada lokasi, kota tempat tinggal, anggaran, dan kebutuhan masing-masing,” tambahnya.
Ia juga menyoroti pentingnya memahami fungsi rumah, apakah untuk tempat tinggal atau sebagai bentuk investasi jangka panjang. “Rumah itu investasi terbesar, jadi memang butuh perjuangan. Tapi kalau diniatkan sebagai tabungan, anak muda harus mulai sisihkan sebagian pendapatannya sejak dini,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Dyah menyampaikan harapan agar generasi muda lebih peduli terhadap kebutuhan hunian dan mempersiapkan kepemilikan rumah sejak dini.
“Memang ada tantangan, apalagi bagi mereka yang termasuk sandwich generation. Tapi dengan perencanaan yang baik, pasti bisa,” pungkasnya. (Fika/Humas)




