Dosen Kesmas UMS Ingatkan Pentingnya Higiene dan Sanitasi pada Program MBG

Tray Makan Bergizi Gratis. (Dokumentasi nasional.kompas.com)
Tray Makan Bergizi Gratis. (Dokumentasi nasional.kompas.com)

ums.ac.id, SURAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah Indonesia dinilai memiliki tujuan mulia untuk menuntaskan permasalahan gizi di Indonesia. Namun, pelaksanaannya perlu memperhatikan aspek lain yang tak kalah penting, yakni higiene dan sanitasi makanan.

Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Windi Wulandari, SKM, M.P.H., saat dimintai tanggapan mengenai kesiapan pelaksanaan program MBG di lapangan.

“MBG ini sebenarnya adalah program yang bagus, tetapi perlu diperhatikan dua hal tadi, yaitu terkait gizi itu sendiri dan juga keamanan pangannya,” ujar Windi, Kamis (16/10).

Dosen Kesmas UMS Windi Wulandari, SKM., M.P.H.
Dosen Kesmas UMS Windi Wulandari, SKM., M.P.H.

Ia menegaskan, dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kasus keracunan makanan yang disebabkan konsumsi MBG terjadi di beberapa daerah, yang menunjukkan masih lemahnya penerapan prinsip higiene dan sanitasi dalam pengolahan makanan.

Menurut Windi, higiene sanitasi makanan mencakup beberapa tahapan penting, mulai dari pemilahan bahan makanan, penyimpanan, pengolahan, penyajian, hingga distribusi makanan.

“Dari pemilahan bahan makanan misalnya, perlu dilihat apakah bahan tersebut masih segar dan aman dikonsumsi nantinya, dalam artian tidak mengandung bahan berbahaya, basi, busuk, atau berjamur untuk dikonsumsi,” jelasnya.

Dalam penyimpanan bahan makanan, Windi menekankan pentingnya menerapkan prinsip FIFO (First In First Out). Artinya, bahan makanan yang disimpan lebih lama harus digunakan terlebih dahulu, agar tidak lewat masa kadaluarsa dan menimbulkan risiko kesehatan. Selain itu, penting juga memperhatikan suhu penyimpanan pada bahan makanan.

Selain itu, kondisi lingkungan dapur MBG serta kebersihan penjamah makanan juga menjadi faktor krusial. Ia menyarankan agar setiap penjamah makanan yang terlibat dalam program MBG memiliki sertifikat atau pernah mengikuti pelatihan hygiene sanitasi makanan.

“Itu menjadi aspek yang sangat penting, karena dengan penjamah mengikuti pelatihan-pelatihan hygiene sanitasi makanan, diharapkan penjamah dapat memahami bagaimana cara memproses makanan dengan baik dan bersih,” tekan dosen Kesmas UMS itu.

Terkait dengan prinsip penyimpanan makanan yang sudah diolah, Windi menggarisbawahi untuk memperhatikan apakah makanan tersebut termasuk dalam golongan makanan yang kering, basah, atau berkuah. Jika makanan tersebut termasuk jenis kering, maka dapat diolah terlebih dahulu karena memiliki daya simpan lebih lama.

“Sebaliknya, makanan berkuah sebaiknya diolah pada tahap akhir, sebab masa simpannya lebih pendek. Setelah beberapa jam, makanan berkuah berisiko menjadi basi atau menimbulkan perubahan bau dan ciri fisik yang menandakan sudah tidak layak dikonsumsi,” terangnya.

Dalam proses distribusi, perlu diperhatikan aspek transportasinya, agar makanan tetap terjaga kualitas dan keamanannya selama perjalanan dari tempat pengolahan hingga ke lokasi tujuan.

“Kalau memang membutuhkan alat transportasi khusus misalnya membutuhkan seperti lemari pendingin, ya itu harus diperhatikan juga,” tuturnya.

Dalam proses distribusi, Windi menekankan pentingnya memperhatikan waktu pengantaran. Makanan yang sudah diolah tidak boleh disimpan lebih dari 4 jam sebelum dikonsumsi. “Jadi harus memperhatikan waktu mulai makanan itu matang sampai pendistribusian. Mungkin sekitar 2-4 jam dari makanan matang hingga dikonsumsi oleh konsumen itu,” kata Windi.

Namun, menjaga ketepatan waktu dan transportasi saja tidak cukup. Ada faktor lain yang perlu diantisipasi, yaitu potensi kontaminasi yang dapat terjadi selama proses pengolahan hingga makanan tiba di tangan konsumen. Salah satu penyebab utama adalah kurangnya personal hygiene pada penjamah makanan.

Ia menekankan, penjamah makanan harus dalam kondisi sehat, tidak mengidap penyakit menular. Untuk melindungi pencemaran terhadap makanan, penjamah menggunakan penjepit/sendok/sarung tangan saat kontak langsung dengan makanan, menggunakan tutup kepala, dan sepatu kedap air. Selain itu penjamah juga harus mencuci tangan sebelum dan setelah bekerja, tidak banyak berbicara, dan menutup mulut saat bersin atau batuk.

Selain dari personal hygiene penjamah makanan, ia juga mengingatkan bahwa kontaminasi silang dapat terjadi saat makanan masak disimpan bersama makanan mentah atau tidak tertutup dengan baik. Kontaminasi bisa berupa kontaminasi biologi seperti adanya E.coli dan Salmonella sp. yang dapat menyebabkan keracunan makanan.

“Keracunan makanan biasanya menimbulkan gejala seperti muntah, pusing, sakit perut, dan diare. Gejala ini perlu segera diidentifikasi apakah disebabkan oleh keracunan atau alergi makanan,” ujarnya.

Sebagai langkah pencegahan, Windi menyarankan agar pelaksanaan program MBG dievaluasi secara rutin dari aspek keamanan pangan, terutama terkait personal hygiene penjamah makanan, penerapan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP), serta standar higiene dan sanitasi.

Ia berharap, dengan penerapan prinsip tersebut secara konsisten, kasus keracunan MBG dapat ditekan, bahkan dihilangkan sama sekali, sehingga tujuan utama program MBG untuk menyehatkan masyarakat benar-benar tercapai. (Maysali/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta