FAI UMS Perluas Wawasan Global, Mahasiswa Pelajari Sistem Akademik Pascasarjana Universiti Malaya

ums.ac.id, SURAKARTA – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melaksanakan kunjungan akademik ke Academy of Islamic Studies (APIUM), Universiti Malaya (UM), Malaysia, dalam rangkaian kegiatan Student Mobility 2026, Rabu (19/8/2026). Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat sistem pendidikan, bidang keilmuan, serta peluang studi lanjutan di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Malaysia.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Dr. Mohd Shahid bin Mohd Noh dari Department of Shariah, Economics and Governance, Academy of Islamic Studies, Universiti Malaya. Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa FAI UMS mengikuti pemaparan dan diskusi mengenai berbagai aspek pendidikan di lingkungan Academy of Islamic Studies, khususnya sistem pembelajaran pada jenjang pascasarjana.

Salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) UMS, Zakiyah Laili Maghfiroh, mengajukan pertanyaan mengenai sistem pembelajaran pada jenjang S2 di Academy of Islamic Studies Universiti Malaya. Ia menanyakan bagaimana model pembelajaran diterapkan, apakah mahasiswa lebih banyak mendapatkan teori di kelas atau terlibat dalam diskusi, penelitian kasus, dan kajian kitab, serta bagaimana sistem evaluasi dan penilaiannya.

“Bagaimana model pembelajaran di Academy of Islamic Studies di UM? Apakah mahasiswa lebih banyak mempelajari teori di kelas atau melakukan diskusi, analisis kitab, penelitian, dan kajian kasus? Lalu bagaimana sistem evaluasi dan penilaiannya?” ujar Zakiyah mengingatnya kembali, Jumat, (21/8/2026).

Menanggapi pertanyaannya, Dr. Mohd Shahid menjelaskan bahwa pembelajaran pada jenjang S2 di Universiti Malaya memiliki pola yang fleksibel dan dapat dilaksanakan secara hybrid maupun menggunakan platform Zoom. Selain kegiatan perkuliahan, mahasiswa juga diarahkan untuk melakukan penelitian kasus, mengikuti kursus, serta memperdalam kajian kitab.

Dalam catatan pemaparan, sistem pembelajaran S2 disebut memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengikuti proses akademik secara fleksibel. Sementara itu, proses penyusunan tesis dilakukan melalui kombinasi pembelajaran tatap muka dan hybrid, dengan menggunakan Zoom.

Selain membahas sistem pembelajaran, Dr. Mohd Shahid juga memperkenalkan sejumlah bidang kajian yang terdapat di Academy of Islamic Studies Universiti Malaya. Bidang tersebut mencakup kajian Fiqh, Usul dan Applied Science, sejarah dan peradaban Islam serta pendidikan, hukum, manajemen dan keuangan, serta Syariah, ekonomi dan tata kelola.

Pembahasan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa FAI UMS mengenai luasnya bidang keilmuan Islam yang dikembangkan di Universiti Malaya. Mahasiswa tidak hanya dapat mempelajari aspek keagamaan secara teoritis, tetapi juga mengembangkan kajian yang berkaitan dengan hukum, ekonomi, manajemen, pendidikan, sejarah, serta isu-isu kontemporer.

Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES), Muhammad Dzaki Dinulloh, turut aktif dalam sesi diskusi. Ia mengajukan pertanyaan mengenai peluang memperoleh beasiswa di Universiti Malaya serta perbedaan bidang kajian Muamalat Management dengan Shariah and Law. Dzaki juga menanyakan bidang yang paling sesuai bagi mahasiswa dengan latar belakang Hukum Ekonomi Syariah untuk melanjutkan studi di jenjang pascasarjana.

“Bagaimana cara mendapatkan beasiswa di UM dan beasiswa tersebut mencakup apa saja? Kemudian, apa perbedaan antara Muamalat Management dengan Shariah and Law, dan untuk mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah lebih cocok masuk yang mana?” tanya Dzaki.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mohd Shahid menjelaskan bahwa terdapat berbagai bentuk dukungan pembiayaan pendidikan, di antaranya scholarship serta beasiswa dari pihak pemerintah atau kerajaan. Informasi tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian mahasiswa karena membuka wawasan mengenai peluang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Universiti Malaya.

Dalam menjelaskan pilihan bidang studi, Mohd Shahid juga menerangkan bahwa mahasiswa dengan latar belakang keilmuan tertentu tidak lagi harus melanjutkan pada bidang yang sama persis ketika memasuki jenjang pascasarjana. Ia memberikan gambaran bahwa pada masa sebelumnya mahasiswa dari bidang syariah yang melanjutkan studi S2 harus tetap mengambil bidang syariah. Namun, ketentuan tersebut kini lebih fleksibel sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk memilih bidang kajian yang sesuai dengan minat dan arah akademiknya.

“Dulu anak Syariah S2 harus masuk di Syariah juga, tapi buat sekarang semua bisa,” jelas Mohd Shahid.

Penjelasan tersebut memberikan wawasan bagi mahasiswa FAI UMS, khususnya mahasiswa HES, bahwa pilihan studi lanjut di Universiti Malaya kini lebih terbuka. Mahasiswa dapat mempertimbangkan berbagai bidang kajian, termasuk Muamalat Management maupun Shariah and Law, dengan menyesuaikan minat, latar belakang akademik, serta rencana pengembangan keilmuan masing-masing.

Selain memperoleh informasi mengenai sistem pendidikan, mahasiswa FAI UMS juga mendapatkan wawasan mengenai standar akademik dan penelitian di Universiti Malaya. Dalam pemaparan Dr. Mohd Shahid, aspek penelitian menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Kajian mahasiswa diarahkan untuk menghasilkan penelitian yang memiliki kualitas akademik dan dapat dipublikasikan pada jurnal bereputasi.

Usai mengikuti sesi pemaparan dan diskusi, mahasiswa FAI UMS juga diajak untuk mengenal lebih dekat lingkungan Academy of Islamic Studies melalui kunjungan ke perpustakaan fakultas. Mahasiswa berkesempatan melihat secara langsung fasilitas perpustakaan serta lingkungan akademik yang mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian.

Tidak hanya mengunjungi perpustakaan, mahasiswa juga diajak berkeliling di lingkungan fakultas untuk melihat berbagai ruang kelas dan fasilitas yang digunakan dalam kegiatan akademik. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai suasana belajar di Academy of Islamic Studies Universiti Malaya sekaligus memperkenalkan lingkungan perkuliahan yang sebelumnya hanya mereka kenal melalui informasi dalam sesi pemaparan.

Kunjungan akademik ini menjadi bagian penting dari pelaksanaan Student Mobility 2026 FAI UMS. Melalui interaksi langsung dengan akademisi dan lingkungan perguruan tinggi internasional, mahasiswa memperoleh pengalaman untuk membandingkan sistem pendidikan tinggi sekaligus memperluas wawasan mengenai perkembangan studi Islam di tingkat internasional.
(Fika/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta