ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali melanjutkan rangkaian Kajian Webinar Series ke-52 dengan tema “Membangun Ketahanan Keluarga di Era Milenial: Tantangan dan Solusinya”, Sabtu (25/10).
Kegiatan ini menghadirkan Ustadzah Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, sebagai pemateri utama, dengan Alfiyatul Azizah, M.A., bertindak sebagai moderator.
Dalam sambutannya, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya menanamkan rasa syukur dalam setiap aktivitas kehidupan.
“Kita harus bersyukur, baik secara vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia). Bekerjalah dengan sepenuh hati. Jangan bekerja karena dikontrol oleh sistem atau teknologi, tetapi karena dikontrol oleh nilai,” ujar Harun.
Rektor menegaskan bahwa rasa syukur yang sejati akan melahirkan ketulusan dalam bekerja dan keteguhan dalam menghadapi tantangan zaman. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada narasumber yang telah berkenan mengisi kajian dengan topik yang relevan bagi kehidupan keluarga modern.
“UMS mengucapkan terima kasih kepada pemateri yang melalui kajiannya akan meneguhkan nilai-nilai ketahanan keluarga berlandaskan ajaran Islam dan ideologi Muhammadiyah,” imbuhnya.
Menurutnya, ketahanan keluarga merupakan pilar penting dalam pembentukan masyarakat yang kuat dan beradab.
Sementara itu, Alfiyatul Azizah, L.C., M.Ud., dalam pengantar diskusi menyoroti fenomena sosial masa kini yang memperlihatkan gejala krisis fungsi dasar keluarga akibat tekanan modernitas.
“Banyak keluarga masa kini kehilangan peran fundamentalnya karena pengaruh ekonomi, media sosial, dan gaya hidup konsumtif yang memudarkan kebersamaan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa di tengah derasnya arus globalisasi dan teknologi, nilai-nilai Islam dalam keluarga justru harus semakin diperkuat sebagai penopang moral dan spiritual.
Dalam penyampaian materi, Dr. Atiyatul Ulya, M.Ag. menguraikan bahwa Al-Qur’an telah memberikan pedoman yang jelas tentang pentingnya menjaga ketahanan keluarga.
Ia menukil firman Allah dalam Surah At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Menurutnya, ayat tersebut tidak hanya berisi peringatan agar keluarga terhindar dari siksa akhirat, tetapi juga mengandung pesan agar keluarga hidup dalam ketenangan, kenyamanan, dan keharmonisan di dunia.
“Menjaga keluarga bukan sekadar menjauhkan mereka dari neraka, tetapi juga memastikan keluarga hidup dalam kedamaian dan kasih sayang,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tantangan keluarga di era milenial semakin kompleks. Fenomena seperti meningkatnya angka perceraian, pernikahan dini, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga keputusan sebagian individu untuk tidak menikah atau memiliki anak, menjadi bukti bahwa ketahanan keluarga sedang diuji.
Dalam perspektif hukum Islam, ia juga menegaskan pentingnya keabsahan pernikahan sebagaimana digariskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
“Pernikahan harus tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), karena Tarjih mendefinisikan keluarga sakinah sebagai keluarga yang berlandaskan keimanan, keabsahan hukum, dan tanggung jawab moral,” paparnya.
Pernikahan yang sah, lanjutnya, bukan hanya memenuhi syarat agama, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan terhadap hak dan martabat anggota keluarga.
“Ada enam asas kehidupan keluarga sakinah menurut Tarjih Muhammadiyah; tauhid, karomah insaniyah, kesetaraan, keadilan, kasih sayang, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Enam asas ini harus dihidupkan dalam rumah tangga, agar rumah itu tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi menjadi taman ketenangan dan sumber kekuatan iman,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen UMS dalam memperkuat literasi keislaman dan kemuhammadiyahan melalui ruang-ruang akademik dan spiritual. Melalui kajian tersebut, diharapkan umat Islam semakin teguh dalam membangun keluarga yang tangguh, beriman, dan berkeadilan di tengah derasnya arus era milenial yang penuh tantangan. (Adi/Humas)




