ums.ac.id, SURAKARTA — Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar talkshow bertajuk “Dari Rumah, Menggerakkan Perubahan” guna memaparkan praktik baik eco sociopreneurship berbasis potensi lokal. Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian Tanwir III dan Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah (NA) di Hotel Dwangsa Lorin, Surakarta, Jumat (7/8/2026).
Acara tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni Focal Point SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah Surakarta Patra Manggala Bima dan Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyumas Dyah Pipit Aryani. Sesi diskusi dipandu oleh Fasilitator Daerah Eco Bhinneka Muhammadiyah Regional Banyuwangi Syarifah Siti Fatimah Alaydrus.
Dalam pemaparannya, Patra Manggala Bima membagikan pengalaman pendampingan masyarakat di Kelurahan Kratonan, Surakarta, melalui program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (SMILE). Program ini melibatkan kolaborasi antara kelompok ibu PKK dan pemuda lintas iman dari komunitas SEDEREK Eco Bhinneka.
Melalui pelatihan terstruktur dan studi banding ke Komunitas Eco Sae Migunani di Bantul, Yogyakarta, warga diajak mengolah limbah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi produk bernilai jual seperti sabun dan lilin aromaterapi.
“Inilah yang kami pahami sebagai eco sociopreneurship. Ibu-ibu berperan mulai dari mengumpulkan minyak jelantah hingga proses pembuatan produk, sementara anak muda lintas iman mengambil peran dalam branding, packaging, serta promosi dan kampanye. Semua punya peran dalam menjaga lingkungan dan membangun usaha bersama,” ujar Patra.
Di sisi lain, PDNA Banyumas memaparkan aksi respons bencana kekeringan dan tanah longsor di Kecamatan Gumelar melalui penanaman 1.113 pohon. Penanaman ini dilakukan dalam rangka Milad Muhammadiyah ke-113 sekaligus bagian dari Program Masifikasi Eco Bhinneka Nasyiatul Aisyiyah.
Selain konservasi, PDNA Banyumas memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya pisang Cavendish menggunakan bibit kultur jaringan. Langkah ini melibatkan perempuan muda di wilayah yang belum memiliki basis Nasyiatul Aisyiyah.
“Penanaman pohon ini menjadi langkah untuk menjaga lingkungan Gumelar. Sambil menunggu pohon tumbuh, kami mengembangkan budidaya pisang Cavendish bersama perempuan muda melalui pemanfaatan pekarangan dan pengelolaan bibit. Harapannya, kegiatan ini menjadi ruang pemberdayaan sekaligus mendukung ekonomi keluarga,” tutur Dyah Pipit Aryani.
Syarifah Siti Fatimah Alaydrus menyimpulkan bahwa inisiatif di Surakarta dan Banyumas membuktikan keberlanjutan lingkungan dapat dimulai dari lingkup domestik dan komunitas terdekat.
“Dari dapur kita bergerak, dari rumah kita mulai, dari perempuan kita berdayakan, dari pemuda kita libatkan. Untuk lingkungan kita jaga, untuk ekonomi kita tumbuhkan,” tegas Syarifah.
Melalui talkshow ini, Eco Bhinneka Muhammadiyah berharap praktik eco sociopreneurship dapat direplikasi oleh para kader Nasyiatul Aisyiyah di berbagai daerah di Indonesia, sejalan dengan semangat “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”.




