ums.ac.id, SURAKARTA – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali meneguhkan komitmennya dalam memperkuat ideologi persyarikatan melalui kegiatan Baitul Arqam Dosen yang diselenggarakan pada Kamis-Sabtu (2-4/7/2026). Bertempat di Aula Pondok Pesantren At-Taqwa, Miri, Sragen, kegiatan ini menjadi ruang penguatan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan bagi para dosen UMS.
Kepala Bidang Kaderisasi, Pembinaan Organisasi Otonom (Ortom), dan Beasiswa Kader Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan, dan Alumni (LP3A) UMS, Azizah Fatmawati, M.Cs., S.T., menegaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kaderisasi ideologis bagi dosen di lingkungan UMS.
Baitul arqam tidak sekadar menjadi forum penyampaian materi, tetapi juga wahana pembentukan karakter dosen agar semakin memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Muhammadiyah dalam kehidupan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Tujuan dari baitul arqam ini adalah melahirkan anak kandung Muhammadiyah, bukan anak tiri Muhammadiyah,” tegas panitia, Sabtu (3/7/2026).
Pada sesi materi bertajuk “Konsep Dasar Islam Berkemajuan (Karakteristik dan Manhaj Islam Berkemajuan)”, K.H. Kowam Karim, B.A., selaku Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sragen, menjelaskan bahwa dakwah Muhammadiyah menghadapi tantangan yang tidak ringan, terutama di tengah masyarakat akar rumput yang masih lekat dengan tradisi dan budaya lokal.
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut Muhammadiyah untuk terus menghadirkan dakwah yang adaptif tanpa kehilangan kemurnian ajaran Islam. Karena itu, konsep Islam Berkemajuan menjadi landasan penting agar gerakan dakwah Muhammadiyah tidak mengalami stagnasi, terlebih mengalami kemunduran.
“Di akar rumput, Muhammadiyah tidak selalu mudah diterima karena masyarakat masih sangat kental dengan budaya yang telah mengakar. Di sinilah Islam Berkemajuan menjadi penting sebagai manhaj perjuangan agar dakwah Muhammadiyah terus bergerak maju dan memberikan solusi bagi masyarakat,” jelasnya pada sesi hari pertama pelaksanaan baitul arqam.
Dalam pemaparannya, Kowam Karim menguraikan lima karakter utama Islam Berkemajuan yang menjadi identitas gerakan Muhammadiyah.
“Pertama, menegakkan tauhid yang murni sebagai fondasi kehidupan. Kedua, memahami Al-Qur’an dan Sunnah secara mendalam sebagai sumber utama ajaran Islam. Ketiga, mengembangkan semangat tajdid atau pembaharuan dalam seluruh dimensi kehidupan. Keempat, mengedepankan prinsip wasathiyah atau moderasi dalam berpikir dan bertindak. Kelima, menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa semangat tajdid dalam Muhammadiyah tidak dilakukan secara serampangan, melainkan dibangun di atas tiga pendekatan epistemologis yang saling melengkapi, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Pendekatan bayani bertumpu pada teks Al-Qur’an dan Sunnah, burhani mengoptimalkan peran akal dan rasionalitas, sedangkan irfani mengedepankan dimensi hati, intuisi, dan spiritualitas dalam memahami realitas.
Melalui ketiga pendekatan tersebut, Muhammadiyah diharapkan mampu melahirkan pemikiran Islam yang responsif terhadap perkembangan zaman tanpa melepaskan pijakan pada nilai-nilai dasar syariat.
Melalui penguatan ideologi Islam Berkemajuan, UMS berharap seluruh dosen tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga menjadi penggerak dakwah intelektual yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan, berkemajuan, dan memberi manfaat bagi masyarakat luas. (Adi/Humas)




