Tanggapi Tingginya Kasus DBD dan Chikungunya, Mahasiswa KKN FIK UMS Hadirkan Inovasi Puding Labu Kuning melalui SAPA Waspada

Memaparkan penyuluhan mengenai SAPA: Waspada DBD dan Chikungunya
Memaparkan penyuluhan mengenai SAPA: Waspada DBD dan Chikungunya

ums.ac.id, SURAKARTA – Tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya di Dukuh Jetis dan Bancakan, Desa Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, mendorong Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 37 Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menghadirkan program SAPA Waspada sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kedua penyakit tersebut.

Program ini dipadukan dengan demonstrasi PULAFA (Puding Labu Fla), inovasi olahan pangan lokal berbahan dasar labu kuning yang dikembangkan sebagai alternatif camilan bergizi untuk mendukung daya tahan tubuh masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (25/6/2026) ini diikuti oleh 31 anggota Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Jetis Bancakan.

PULAFA : Pudding Labu Kuning dan Fla untuk mempertahankan daya tahan tubuh akibat Penyakit DBD dan Chikungunya
PULAFA : Pudding Labu Kuning dan Fla untuk mempertahankan daya tahan tubuh akibat Penyakit DBD dan Chikungunya

Ketua Kelompok 37 KKN FIK UMS, Wildam Adani, menjelaskan bahwa SAPA Waspada merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi kesehatan masyarakat Jetis Bancakan yang tengah menghadapi meningkatnya kasus DBD dan chikungunya.

“Partisipasi dan antusiasme ibu-ibu sangat tinggi. Kami berharap melalui penyuluhan dan inovasi PULAFA ini masyarakat semakin memahami cara mencegah DBD dan chikungunya, sekaligus mampu memanfaatkan bahan pangan lokal untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Produk ini juga menjadi alternatif camilan bergizi bagi anak-anak yang kurang menyukai sayuran sehingga mereka tetap dapat memperoleh manfaat gizinya,” ujar Wildam, Selasa (7/7/2026).

Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Aprilia Aldrianingtyas selaku pemateri, menjelaskan bahwa DBD dan chikungunya sama-sama ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, tetapi memiliki karakteristik gejala yang berbeda sehingga masyarakat perlu mengenalinya sejak dini.

Peserta juga diajak menerapkan gerakan SAPA, yaitu Selalu menguras tempat penampungan air secara rutin, Amankan dan tutup rapat tempat penampungan air, Periksa dan bersihkan barang bekas yang dapat menampung air, serta Aktif melakukan 3M Plus dengan menguras, menutup, mendaur ulang barang bekas, dan mencegah gigitan nyamuk.

Selain itu, peserta diimbau menerapkan pola makan bergizi seimbang sebagai salah satu upaya menjaga daya tahan tubuh. Mahasiswa Program Studi Ilmu Gizi sekaligus pemateri, Risma Noor ‘Arasy memperkenalkan PULAFA sebagai inovasi olahan pangan lokal yang dikembangkan berdasarkan hasil koordinasi tim KKN dengan bidan desa serta pengurus Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan PRA Jetis Bancakan.

“Sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga inovasi yang dapat diterapkan langsung oleh masyarakat,” kata Risma.

PULAFA dibuat dengan labu kuning sebagai bahan pokok pangan lokal yang mudah diperoleh, praktis dibuat, memiliki cita rasa yang enak, serta bertekstur lembut sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia. Selain itu, labu kuning mengandung beta-karoten, vitamin A, vitamin C, serat, dan zat gizi lainnya yang berperan dalam mendukung daya tahan tubuh.

PULAFA dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana, yaitu labu kuning, susu full cream, agar-agar, gula, tepung maizena, dan vanili. Dalam satu sajian, PULAFA mengandung energi sebesar 58,26 kkal, protein 1,244 gram, lemak 1,001 gram, karbohidrat 10,77 gram, serat 2,90 gram, beta-karoten 318,04 mikrogram, vitamin A 120 mikrogram, vitamin C 7,605 miligram, serta zat besi 1,841 miligram.

“Kandungan tersebut menjadikan PULAFA sebagai salah satu alternatif camilan bergizi yang memanfaatkan potensi pangan lokal dengan nilai gizi yang baik. Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat dan interaktif,” kata Risma.

Ketua Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Jetis Bancakan, Halimah Dewi Aristiyati, mengapresiasi inovasi yang dibawa oleh mahasiswa KKN FIK UMS. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan wawasan baru kepada masyarakat dalam memanfaatkan labu kuning sebagai pangan bergizi.

“Labu kuning atau yang biasa kami sebut waluh selama ini lebih sering diolah menjadi kolak bersama tape, ketela rambat, pisang, dan kolang-kaling saat bulan Ramadan, atau cukup dikukus untuk dikonsumsi. Kehadiran mahasiswa KKN UMS di Ranting Jetis Bancakan memberikan wawasan baru bahwa labu kuning ternyata bisa diolah menjadi puding yang rasanya enak, teksturnya lembut, warnanya menarik, serta semakin nikmat dipadukan dengan susu dan fla,” ungkap Halimah.

Hasil uji kesukaan menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen peserta menyatakan menyukai PULAFA dari aspek warna, aroma, rasa, maupun tekstur. Hasil tersebut menunjukkan bahwa PULAFA memiliki potensi untuk diterima masyarakat sebagai alternatif camilan bergizi berbahan pangan lokal.

Salah seorang peserta penyuluhan, Daryanti, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru melalui kegiatan tersebut. Menurutnya, program yang diselenggarakan mahasiswa KKN sangat relevan dengan kondisi masyarakat Jetis Bancakan yang belakangan ini dihadapkan pada meningkatnya kasus DBD dan chikungunya.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UMS ini karena memberikan edukasi yang bermanfaat mengenai pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) dan chikungunya,” tutur Daryanti. (Maysali/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta