ums.ac.id, SURAKARTA – Bau mulut saat berpuasa sering kali menjadi keluhan banyak orang, namun menurut pakar dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), kondisi ini merupakan hal yang wajar dan dapat dicegah dengan menjaga kebersihan serta pola konsumsi yang tepat terutama saat bulan Ramadan.
Dosen Spesialis Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), drg. Edi Karyadi, MM., MDSc., Sp.Perio., menjelaskan penyebab bau mulut saat berpuasa terjadi akibat berkurangnya produksi air liur.

Menurutnya, air liur memiliki fungsi penting dalam menjaga kelembaban mulut, membantu proses menelan makanan, serta membunuh mikroorganisme patogen. Selain itu, air liur juga memberikan sifat basa pada lambung.
“Ketika produksinya menurun, kondisi perut menjadi lebih asam, yang turut berkontribusi pada bau mulut,” jelasnya saat ditemui pada Jumat, (7/3).
Edi menjelaskan bahwa penyebab bau mulut dapat berasal dari faktor internal maupun eksternal, serta bersifat patologis maupun non-patologis. Dalam konteks puasa, bau mulut termasuk dalam kategori non-patologis, karena bukan disebabkan oleh penyakit seperti gigi berlubang atau radang gusi.

Ia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi. Hal ini, menurutnya, menandakan bahwa bau mulut saat puasa merupakan hal yang alami.
“Normalnya, produksi air liur dalam sehari mencapai satu sampai dua liter, tetapi saat puasa jumlahnya menurun menjadi sekitar setengah liter karena berkurangnya asupan cairan,” terang Dosen UMS itu.
Faktor makanan juga berperan dalam menyebabkan bau mulut. Makanan dengan aroma menyengat, seperti durian, dapat bertahan lama di rongga mulut, terutama jika sisa makanan tertinggal di sela gigi atau kantong gusi. Sisa makanan ini dapat mengalami fermentasi, sehingga mendukung pertumbuhan bakteri penyebab bau.
Edi menekankan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut selama berpuasa. Jika kebersihan rongga mulut terpelihara, flora normal maupun flora abnormal dalam mulut dapat dikendalikan. Sebaliknya, jika kebersihan tidak dijaga, bakteri seperti Streptococcus dapat berkembang lebih cepat dan menghasilkan endotoksin penyebab bau.
“Sikat gigi adalah senjata utama untuk menjaga kesehatan rongga mulut. Namun, teknik menyikat yang salah justru bisa menimbulkan masalah,” ujarnya.
Ia menyarankan metode menyikat gigi yang benar, seperti teknik roll (gerakan menggulung ke atas dan ke bawah) atau scrub (gerakan horizontal dan memutar). Waktu yang tepat untuk menyikat gigi saat puasa adalah setelah sahur dan sebelum tidur. Selain itu, pemilihan pasta gigi juga penting. Pasta gigi yang mengandung detergen sebaiknya dihindari karena dapat menghambat produksi air liur, yang justru membuat mulut semakin kering.
Beberapa bahan alami dapat membantu mengurangi bau mulut, seperti teh hijau, ekstrak daun salam, dan ekstrak biji pepaya. Namun, ia mengingatkan bahwa obat kumur berbasis alkohol sebaiknya tidak digunakan dalam jangka panjang karena dapat merusak jaringan saraf secara perlahan.
Edi juga menyarankan pola konsumsi air putih yang cukup untuk menjaga kelembaban mulut dengan 3-2-3.
“Yaitu tiga gelas air saat berbuka, dua gelas sebelum tidur, dan tiga gelas saat sahur. Selain air putih, buah-buahan dengan kadar air tinggi seperti semangka dan melon juga baik untuk menjaga hidrasi tubuh,” jelasnya.
Ia juga menyoroti peran gula dalam menyebabkan bau mulut. Untuk menghindarinya, konsumsi gula berlebih sebaiknya dikurangi dan digantikan dengan buah-buahan yang kaya air.
Terakhir, Edi menekankan bahwa dalam Islam, amalan seperti wudhu dapat membantu menjaga kesehatan rongga mulut. Dengan berwudhu minimal lima kali sehari, kelembaban rongga mulut tetap terjaga, sehingga dapat mengurangi risiko bau mulut. (Yusuf/Humas)




