ums.ac.id, SURAKARTA – Biro Pengembangan Sumber Daya Manusia Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Kajian Tafsir Al-Qur’an perdana di bulan Ramadan 1446 H pada Kamis (6/3). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom Meeting.
Kajian tafsir ini merupakan bagian dari program pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang rutin diadakan setiap Kamis pukul 12.30–13.30 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan UMS sebagai upaya meningkatkan pemahaman keislaman.
Pada kesempatan kali ini, kajian membahas tafsir Surah At-Thoriq dengan pemateri Ustadz Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa Surah At-Thoriq mengandung pelajaran mendalam tentang penciptaan manusia dan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Menurut Ustadz Ainur Rha’in, Allah SWT dalam Al-Qur’an sering kali menyebut langit, matahari, dan bulan. Pengulangan ini menunjukkan kebesaran-Nya, terutama dalam keteraturan pergerakan benda-benda langit yang menjadi penanda waktu dan arah bagi manusia.
“At-Thoriq sendiri berarti sesuatu yang datang pada malam hari, seperti bintang. Bintang-bintang ini memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai penunjuk arah maupun sebagai tanda kekuasaan Allah,” jelasnya.
Ia juga menyinggung tafsir kata “Mutsaqib,” yang dalam Surah At-Thoriq diartikan sebagai benda langit yang menyala dan bersinar. Beberapa ulama mengaitkannya dengan fenomena lubang hitam (black hole), meskipun pemahaman ini masih dalam ranah ijtihad.
Selain itu, tafsir ayat berikutnya dalam Surah At-Thoriq menegaskan bahwa setiap manusia senantiasa dijaga oleh malaikat yang mencatat amal perbuatannya. Hal ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk selalu berhati-hati dalam setiap tindakan.
“Manusia tidak perlu merisaukan rezeki karena sudah diatur oleh Allah, tetapi tetap harus berusaha. Segala amal perbuatan manusia akan dicatat dan dipertanggungjawabkan kelak di hari kiamat,” tambahnya.
Lebih lanjut, kajian ini juga membahas tentang penciptaan manusia. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia berasal dari sari pati tanah, kemudian mengalami proses perkembangan di dalam rahim. Fakta ini sejalan dengan penelitian ilmiah tentang embriologi.
Ustadz Ainur Rha’in juga menjelaskan bagaimana kebangkitan manusia setelah kematian merupakan perkara yang mudah bagi Allah. Jika penciptaan manusia pertama kali saja bisa dilakukan, maka menghidupkan kembali setelah mati bukanlah hal yang sulit bagi-Nya.
Kajian juga membahas fenomena alam seperti hujan dan siklus air, yang menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah. Langit memiliki peran dalam mengembalikan air ke bumi dalam bentuk hujan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Selain itu, dalam kajian ini dijelaskan bahwa ada waktu-waktu tertentu ketika pintu langit terbuka, seperti saat adzan, iqamah, dan bulan Ramadan. Pada waktu-waktu ini, doa lebih mustajab untuk dikabulkan.
Di akhir kajian, Ustadz Ainur Rha’in menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kebenaran yang tidak mengandung kebohongan. Manusia diperintahkan untuk meneliti alam sebagai bentuk tafakkur dan mencari ilmu yang akan menguatkan keimanan.
Program rutin ini diharapkan semakin memperkuat pemahaman AIK di kalangan sivitas akademika UMS. (Yusuf/Humas)




