Mahasiswa Profesi Fisioterapis UMS Edukasi Lansia Lewat Pekan Pergerakan Kesehatan Terpadu

ums.ac.id, SURAKARTA – Tim promosi kesehatan komunitas dari mahasiswa Prodi Pendidikan Profesi Fisioterapis Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Pekan Pergerakan Kesehatan Terpadu. Beberapa program dijalankan di antaranya berupa penyuluhan nonfisik dan fisik.

Salah satu program intervensi nonfisik bertajuk pentingnya tidur berkualitas bagi kelompok masyarakat lanjut usia. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah para lansia yang terdaftar aktif sebagai peserta pos pembinaan terpadu (Posbindu) di Desa Trangsan, Sukoharjo, dengan visi besar untuk mengurai pemahaman keliru yang selama ini beredar di lingkungan pedesaan.

Ketua Kegiatan Feyza Azzahraan, S.Kes., mengungkapkan penyuluhan ini penting untuk mengurai pemahaman keliru yang selama ini beredar di lingkungan pedesaan.

“Banyak lansia dan keluarga mereka menganggap bahwa penurunan kuantitas tidur, sering terbangun di sepertiga malam, atau pola tidur yang terfragmentasi merupakan konsekuensi alami penuaan yang tidak perlu diintervensi secara medis,” jelas Feyza, Rabu (29/7/2026).

Seperti salah satu anggapan dari peserta penyuluhan yang memiliki gangguan tidur. Wiryo (68) mengaku memiliki gangguan tidur karena terbiasa minum teh pekat.

“Saya pikir kalau sudah tua ya wajar tidurnya cuma sebentar-sebentar, ternyata kebiasaan saya minum teh pekat setiap malam itu bikin susah tidur,” cerita Wiryo kepada mahasiswa UMS.

Pandangan konvensional inilah yang diluruskan oleh tim komunitas Fisioterapis UMS dengan menanamkan wawasan baru mengenai korelasi yang sangat erat antara tidur berkualitas dan stabilitas kesehatan fisik serta ketahanan mental di usia senja.

Penyuluhan yang terlaksana pada 6 Juli 2026 itu dilaksanakan dengan metode tatap muka secara langsung yang dikemas dalam bentuk dialog interaktif dua arah. Para mahasiswa juga menggunakan bahasa lokal yang santun dan mudah dipahami.

“Tim penyuluh mengupas tuntas berbagai faktor biologis dan lingkungan yang kerap mengganggu pola tidur para lansia. Faktor-faktor tersebut diidentifikasi meliputi pola makan dan jenis konsumsi yang kurang tepat menjelang malam hari, seperti asupan makanan berat atau minuman stimulan, kebiasaan rutinitas yang buruk sebelum tidur, hingga kondisi arsitektural kamar tidur yang kurang mendukung, seperti pencahayaan yang terlalu silau atau kebisingan dari lingkungan,” sebut Feyza.

Sebagai solusi praktis, tim membagikan tips higienitas tidur yang dapat segera diterapkan secara mandiri di rumah, termasuk pengaturan jadwal tidur yang konsisten, penciptaan suasana kamar yang redup dan tenang, serta penerapan teknik relaksasi pernapasan untuk menenangkan sistem saraf sebelum memejamkan mata.

Para lansia menyambut baik sesi ini, ditandai dengan keaktifan mereka dalam berkonsultasi dan saling berbagi cerita mengenai keluhan insomnia yang selama ini mereka pikul sendiri, sehingga kegiatan ini berhasil mendorong lansia untuk membiasakan pola tidur yang lebih sehat demi menunjang kualitas hidup dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Selain melakukan penyuluhan tentang pentingnya tidur berkualitas, pada 10 Juli 2026 para mahasiswa juga memberikan penyuluhan terapan mengenai pengurangan dan manajemen nyeri lutut pada penderita osteoartritis (OA) di Desa Klaseman dan Desa Luwang. Program ini digulirkan dengan tujuan konkret untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat secara masif mengenai tata cara penanganan nyeri secara mandiri di rumah, guna mempertahankan fungsi sendi semaksimal mungkin dalam aktivitas sehari-hari tanpa harus bergantung sepenuhnya pada obat-obatan pereda nyeri kimia.

Fasilitator memberikan edukasi mengenai pengertian penyakit pengapuran sendi, faktor risiko biomekanis, serta pentingnya menjaga berat badan ideal karena setiap kilogram kelebihan berat badan akan memberikan beban mekanis berlipat ganda pada sendi lutut, sehingga mempercepat kerusakan tulang rawan. Memasuki sesi inti, para lansia diajarkan dan dibimbing untuk mempraktikkan gerakan latihan penguatan otot-otot di sekitar lutut guna memperkokoh stabilitas sendi serta tata cara penggunaan kompres hangat yang aman.

“Biasanya, kalau lutut mulai ngilu, saya langsung mencari obat pereda nyeri. Setelah diajari cara kompres hangat ini, nyerinya lumayan berkurang dan otot rasanya lebih rileks,” tutur Karni (70) dengan antusias.

Latihan fisik terbimbing ini diikuti oleh peserta dengan antusiasme yang luar biasa. Para lansia menirukan setiap gerakan secara perlahan demi memastikan teknik yang dilakukan sudah benar agar dapat diterapkan dengan aman di rumah untuk mengurangi nyeri lutut, meningkatkan mobilitas, dan memperbaiki kualitas hidup mereka.

Selanjutnya, mahasiswa bersama tim melaksanakan Tes Kebugaran Rockport di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Ngudi Waras VI, Dukuh Tumpeng, Desa Luwang. Program ini bertujuan strategis untuk menilai tingkat kebugaran kardiorespiratori serta kapasitas fungsional nyata para lansia melalui instrumen uji klinis lapangan yang aman dan terstandardisasi, yaitu Six-Minute Walking Test.

Hasil pengujian fisik ini menunjukkan tingkat ketahanan yang baik. Dari hasil evaluasi akhir program tes kebugaran Rockport ini, ditemukan satu rekomendasi penting untuk pelaksanaan berikutnya, yaitu perlunya sosialisasi yang lebih intensif mengenai kewajiban penggunaan alas kaki yang tepat dan aman sebelum tes berjalan dimulai guna meminimalkan risiko cedera otot kaki.

Sebagai penutup dari seluruh rangkaian Pekan Pergerakan Kesehatan Terpadu ini, pada 11 Juli 2026 dilaksanakan juga Program Pengelolaan Penyakit Kronis yang secara spesifik difokuskan untuk meningkatkan derajat kesehatan serta mengoptimalkan kualitas hidup penderita diabetes melitus dan hipertensi di wilayah setempat. (Maysali/Humas)

Bagikan informasi ini kepada temanmu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

News UMS kini hadir di Saluran WhatsApp dengan klik Universitas Muhammadiyah Surakarta